5 Kasus Pembunuhan di Indonesia yang Masih Belum Diusut Tuntas, Salah Satunya Vina

Jumat 17-05-2024,11:45 WIB
Reporter : Aditya Saputra
Editor : Khikmah Wati

Siang harinya sebelum ia lenyap, Marsinah mendatangi Kodim Sidoarjo. Ia bermaksud menanyakan 13 buruh seperjuangan Marsinah yang dibawa ke Kodim dan diintimidasi untuk mengundurkan diri dari CPS karena dianggap melakukan rapat gelap serta mencegah buruh lain bekerja.

Malam harinya, Marsinah hilang dan terus lenyap hingga 9 Mei 1993. Saat ditemukan, ia sudah tewas dalam kondisi babak belur dan penuh luka.

Polisi menyebut ia tewas dalam keadaan disiksa berat, ditambah lagi ia juga menjadi korban asusila.  Penyelidikan berjalan.

Soeharto secara pribadi berpidato agar rakyat tak curiga pada pemerintah dahulu. Ia meminta kasus ini diusut tuntas.

Hasilnya, 8 petinggi PT. CPS ditangkap diam-diam tanpa prosedur. Akhirnya Suprapto, pegawai bagian kontrol; Yudi Susanto, pemilik CPS; dan Suwono, satpam CPS dinyatakan bersalah dalam pembunuhan Marsinah.

Yudi divonis 17 tahun penjara. Namun, Yudi bersikeras ia difitnah sebagai kambing hitam aparat. Akhirnya, usai banding, ia dan staf CPS lainnya dibebaskan. 

Mereka pun bersaksi mereka disiksa polisi agar mengakui membunuh Marsinah. Hingga kini, sang pembunuh asli masih berkeliaran.

4. Munir

Aktivis lainnya yang meninggal dibunuh adalah Munir Said Thalib, 38 tahun. Giat menegakkan keadilan untuk korban HAM, Munir merupakan salah satu pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan Imparsial.

Pada 6 September 2004, Munir berangkat pada pukul 21.55 WIB naik pesawat Garuda Indonesia GA-974 menuju Belanda untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Utrecht.  Namun, pada 7 September keesokan harinya, ia menghembuskan napas terakhir di pesawat.

Laporan menyebutkan Munir bolak-balik ke toilet dan nampak kesakitan di bagian perut setelah transit di Singapura. Ia habis minum jus jeruk. 

Seorang dokter pun berusaha membantunya namun ia menghembuskan napas terakhir di pesawat, 40,000 kaki di atas daratan Rumania. Menurut autopsi kepolisian Belanda, Munir dibunuh dengan cara diracun arsenik dalam suatu skenario pembunuhan yang terstruktur.

Pilot pesawat Munir saat itu, Pollycarpus, ditangkap. Rupanya, saat itu ia harusnya libur tapi tiba-tiba ditugaskan Dirut Indra Setiawan. 

Pollycarpus dijatuhkan vonis 20 tahun penjara. Namun, karena berbagai perkembangan penyelidikan, keputusan hakim menjadi inkonsisten dan akhirnya mereduksi hukuman Pollycarpus jadi 14 tahun sebelum akhirnya ia bebas bersyarat pada tahun 2014. Ia bebas murni pada Agustus 2018.

Banyaknya inkonsistensi dalam penyelidikan membuat aktivis HAM menganggap Pollycarpus hanyalah kambing hitam untuk mencegah keadilan dijatuhkan pada pembunuh Munir sebenarnya.

Kategori :