Bukan Kurang Potensi, UMKM Kita Kekurangan Pendampingan Digital

Bukan Kurang Potensi, UMKM Kita Kekurangan Pendampingan Digital

--

radartegal.com - Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) selama ini selalu disebut sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia. Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Banyak UMKM memiliki produk berkualitas dan mampu bertahan hingga puluhan tahun, bahkan memiliki pelanggan setia. Namun di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, muncul pertanyaan yang perlu dijawab secara jujur. Jika potensinya sebesar itu, mengapa banyak UMKM masih sulit berkembang?

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan pada kualitas produk atau potensi usaha. Salah satu contoh dapat dilihat pada pelaku UMKM di Kabupaten Tegal, seperti usaha Tahu Berkah Barokah yang telah berdiri sejak 1999. Dari sisi kualitas, usaha ini tidak kalah bersaing. Namun pemasaran masih dilakukan secara manual dan jangkauan pasar terbatas di lingkungan sekitar. Kondisi ini bukan kasus tunggal, tetapi gambaran umum yang masih banyak terjadi.

Di era digital saat ini, kehadiran di ruang online bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Konsumen tidak hanya datang secara langsung, tetapi juga mencari informasi melalui internet. Ketika sebuah usaha tidak memiliki jejak digital, tidak muncul di pencarian, tidak terdaftar di peta digital, dan tidak memiliki identitas usaha yang jelas, maka usaha tersebut sulit dikenal oleh pasar yang lebih luas. Akibatnya, peluang untuk berkembang menjadi terhambat.

Persoalan ini sering kali dianggap sebagai kurangnya inovasi atau rendahnya kemauan belajar dari pelaku UMKM. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak pelaku usaha tidak mengetahui harus memulai dari mana. Digitalisasi dianggap rumit, membutuhkan biaya besar, dan terasa jauh dari keseharian mereka. Tanpa arahan yang jelas, wajar jika mereka memilih bertahan dengan cara lama yang sudah terbukti bagi mereka.

Di sinilah letak masalah yang sebenarnya, yaitu kurangnya pendampingan yang konkret dan berkelanjutan. Selama ini, program digitalisasi UMKM sering berhenti pada tahap sosialisasi atau pelatihan singkat. Pelaku usaha diberikan informasi, tetapi tidak didampingi dalam proses penerapannya. Padahal yang dibutuhkan bukan hanya pengetahuan, tetapi juga bimbingan yang praktis dan mudah diikuti.

Dampak dari kondisi ini sangat terasa. Banyak UMKM tetap sulit ditemukan oleh konsumen baru, jangkauan pasar tidak berkembang, dan peluang peningkatan penjualan menjadi terbatas. Sementara itu, pelaku usaha yang sudah memanfaatkan teknologi digital mampu bergerak lebih cepat. Jika kondisi ini terus dibiarkan, kesenjangan antar pelaku UMKM akan semakin lebar.

Padahal, perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Langkah sederhana seperti memperjelas identitas usaha, memperluas akses informasi, dan mulai hadir di platform digital sudah dapat memberikan dampak yang signifikan. Dengan pendekatan yang tepat, UMKM dapat beradaptasi secara bertahap tanpa harus menghadapi beban yang besar.

Sudah saatnya kita melihat persoalan ini dengan sudut pandang yang lebih tepat. UMKM di Indonesia bukan kekurangan potensi, tetapi kekurangan pendampingan. Peran pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa pelaku usaha tidak berjalan sendiri dalam menghadapi perubahan ini.

Jika pendampingan dapat diperluas dan dilakukan secara konsisten, maka potensi besar UMKM tidak hanya menjadi wacana. Potensi tersebut dapat benar-benar berkembang dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian. Namun tanpa pendampingan yang memadai, banyak UMKM akan terus tertinggal di tengah perkembangan zaman yang tidak bisa dihindari.

Penulis  : 

1. Riyanto

2. Intan Mutiara 

3. Septia Pujianti 

4. Muhaemin Nur Hidayat

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait