4. Pengawasan diperlukan untuk menjaga keselamatan dan lingkungan.
Kebutuhan infrastruktur menjadi semakin penting ketika populasi EV terus bertambah. Tanpa fasilitas memadai, baterai bekas berpotensi menjadi persoalan baru.
BACA JUGA: Daftar Mobil Listrik MPV Buatan China: Pilihan Terbaik untuk Mobil Keluarga & Operasional
BACA JUGA: Daftar Mobil Listrik China untuk Perjalanan Luar Kota: Solusi Aman Mudik & Touring Antarkota
Pada 2025, pemerintah memasukkan fasilitas daur ulang dalam ekosistem baterai terintegrasi. Proyek di Halmahera Timur direncanakan memiliki kapasitas 20 ribu ton per tahun.
Rencana tersebut menunjukkan pengolahan baterai mulai dipandang sebagai bagian industri nasional. Namun, kapasitas proyek tetap perlu diikuti sistem pengumpulan yang matang.
4. Tantangan Terbesar Ada pada Ekonomi dan Ketersediaan Baterai
Membangun fasilitas pengolahan membutuhkan investasi, teknologi, tenaga ahli, dan pasokan baterai. Masalahnya, jumlah baterai EV yang benar-benar memasuki akhir masa pakai masih terbatas.
IEA menyebut industri saat ini masih banyak mengandalkan sisa produksi baterai. Baterai kendaraan yang benar-benar pensiun baru akan meningkat signifikan kemudian.
Komposisi kimia baterai juga memengaruhi nilai ekonominya. NMC cenderung lebih menarik karena mengandung logam bernilai lebih tinggi.
Sebaliknya, nilai material LFP setelah pengolahan relatif lebih rendah. Kondisi tersebut dapat membuat model bisnis pengolahannya lebih menantang.
BACA JUGA: 5 Mobil Listrik Buatan China Jarak Tempuh Jauh 2026: Sanggup Tembus 500+ Km Sekali Cas!
BACA JUGA: 5 Mobil Listrik MPV Buatan China 2026: Kabin Super Luas, Pintu Geser, & Mewah!
Secara ringkas, empat tantangan bisnis yang perlu diperhatikan adalah:
1. Pasokan baterai bekas belum melimpah saat ini.
2. Teknologi pengolahan membutuhkan investasi besar.
3. Nilai material berbeda berdasarkan kimia baterai.