2. Digunakan kembali untuk kebutuhan penyimpanan energi tertentu.
3. Dibongkar ketika sudah tidak ekonomis digunakan.
4. Materialnya diproses untuk memperoleh bahan bernilai.
Penggunaan kedua dapat memperpanjang masa manfaat baterai sebelum diproses. Namun, tidak semua baterai cocok untuk skenario tersebut.
IEA mencatat penggunaan kembali menghadapi tantangan keselamatan dan keekonomian. Persaingan dengan baterai baru juga memengaruhi kelayakan bisnisnya.
Karena itu, keputusan akhir harus mempertimbangkan kondisi baterai secara individual. Baterai yang rusak berat tentu membutuhkan penanganan berbeda.
BACA JUGA: Kenapa Ban Mobil Listrik Cepat Botak? Ini 5 Penyebab Utama & Cara Mencegahnya!
BACA JUGA: Daftar Merek & Deretan Mobil Listrik yang Ternyata Dirakit Langsung di Indonesia
2. Proses Pengolahan Membutuhkan Teknologi dan Penanganan Khusus
Baterai kendaraan listrik memiliki material yang dapat dipulihkan kembali. Lithium, nikel, kobalt, mangan, tembaga, dan material lain memiliki nilai ekonomi.
Sebelum diproses, baterai perlu dikumpulkan, dibongkar, dan dipilah secara aman. Tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam pengelolaan limbah baterai EV.
Teknologi pengolahan kemudian memisahkan material sesuai karakter kimianya. Pilihan teknologi dapat menggunakan pendekatan pirometalurgi atau hidrometalurgi.
BRIN juga mendorong pengembangan teknologi daur ulang langsung untuk baterai. Pendekatan berbeda tersebut terus dikembangkan sesuai kebutuhan industri.
BACA JUGA: Daftar Mobil Listrik Buatan Indonesia: Rincian Spesifikasi, Harga, & Nilai TKDN
BACA JUGA: Baterai LFP vs NMC Mobil Listrik: Perbandingan Keamanan, Daya Tahan, & Usia Pakai
Secara ringkas, terdapat empat tahapan penting dalam pengolahan baterai:
1. Pengumpulan baterai dari kendaraan atau sumber resmi.