Mitos yang berkembang menyebutkan bahwa peristiwa ini dapat memiliki berbagai makna, tergantung pada perilaku burung tersebut.
BACA JUGA: 5 Gunung di Jateng dengan Mitos yang Tidak Biasa
BACA JUGA: Mengungkap Mitos Suara Burung saat Maghrib, Pertanda Kematian?
Jika perkutut mendekati rumah dengan tenang atau bersuara lirih, hal ini dipercaya sebagai pertanda akan datangnya rezeki besar atau kabar baik.
Di sisi lain, banyak pula yang meyakini bahwa kehadiran burung perkutut bisa menjadi isyarat spiritual, sebagai perantara pesan dari leluhur atau makhluk halus, terutama jika burung tersebut enggan pergi dan bertahan dalam waktu yang lama.
Selain itu, sikap burung juga sering dihubungkan dengan kondisi rumah tangga pemilik rumah. Jika burung terlihat nyaman dan jinak, hal ini diyakini sebagai tanda keharmonisan dan ketenteraman.
Jika tampak gelisah, resah, atau menolak makanan, maka hal itu dianggap sebagai pertanda akan datangnya gangguan atau energi negatif yang perlu diwaspadai.
BACA JUGA: Berani Berkunjung? Mitos Curug Putri Tegal Simpan Cerita Mistis di Balik Pesonanya
BACA JUGA: Mitos Goa Safarwadi yang Menyimpan Misteri, Warga Dilarang Masuk Sembarangan!
Dalam ajaran Jawa, seorang pria ideal harus memenuhi tujuh laku utama atau sapta brata, salah satunya adalah memelihara burung perkutut.
Ini bukan hanya tentang merawat hewan, tapi tentang membangun ketenangan batin, kesabaran, dan kemampuan membaca tanda-tanda alam.
Burung perkutut melambangkan keseimbangan antara dunia lahir dan batin, suara merdunya menjadi refleksi dari kedamaian hati, sementara katuranggan-nya menjadi pengingat akan pentingnya intuisi dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Mitos burung perkutut datang ke rumah tetap menjadi bagian dari warisan budaya yang menarik untuk direnungkan, meski zaman terus berubah dan cara pandang masyarakat semakin rasional.
BACA JUGA: Di Balik Pesonanya, Air Terjun Kakek Bodo Simpan Mitos Pertapa Sakti yang Melegenda
BACA JUGA: 5 Wisata Hits di Jateng dengan Mitos Putus Cinta
Mitos tentang burung perkutut yang datang ke rumah merupakan bagian dari kearifan lokal yang masih hidup dalam masyarakat tradisional. Entah diyakini sebagai pertanda baik atau peringatan, fenomena ini mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap tanda-tanda alam dan menjaga harmoni antara manusia, hewan, dan semesta.