Mitos Kejatuhan Cicak, Pertanda Buruk atau Sekedar Kepercayaan?

Kamis 12-06-2025,21:00 WIB
Reporter : Aditya Saputra
Editor : Aditya Saputra

Di masyarakat Jawa, kepercayaan tentang cicak tidak lepas dari nilai-nilai mistis yang diwariskan dari nenek moyang. Dalam budaya Hindu-Bali pun, suara atau kehadiran cicak di momen tertentu dianggap sebagai isyarat gaib atau pertanda dari alam.

Sementara dalam perspektif Islam, cicak dianggap sebagai hewan yang fasik. Dalam beberapa hadis, Rasulullah SAW menganjurkan untuk membunuh cicak karena dianggap membawa keburukan. Salah satu hadis yang cukup dikenal berbunyi:

BACA JUGA: 6 Mitos Unik dan Aneh yang Dipercaya Bisa Mengusir Hujan

BACA JUGA: 5 Tempat dengan Mitos Enteng Jodoh Paling Populer

“Barang siapa yang membunuh cicak dengan sekali pukulan, maka baginya pahala sekian-sekian…” (HR. Muslim).

Pandangan ini bukan semata karena mitos, tetapi karena cicak dianggap membawa penyakit atau kotoran yang membahayakan kesehatan manusia.

Oleh sebab itu, dalam konteks agama, keberadaan cicak lebih kepada aspek kebersihan dan kesehatan ketimbang pertanda spiritual.

Tidak Ada Bukti Ilmiah

Meski banyak yang mempercayai mitos ini, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang dapat membenarkan bahwa kejatuhan cicak benar-benar membawa pengaruh buruk atau baik dalam kehidupan seseorang.

BACA JUGA: Malam Jumat Kliwon Sering Dikaitkan dengan Mitos dan Hal Mistis, Ini Asal Mulanya

BACA JUGA: Mitos atau Fakta? Daihatsu Xenia 2025 Lebih Irit dari Mobil LCGC

Pakar psikologi budaya dari Universitas Indonesia, Dr. Guntur Prawiro, menyatakan bahwa mitos seperti ini terbentuk dari pola pikir masyarakat agraris yang hidup berdampingan dengan alam.

Dengan kata lain, kepercayaan ini lebih merupakan warisan budaya yang berkembang dari cerita-cerita lisan dan pengalaman pribadi yang dibumbui keyakinan spiritual.

Mengapa Mitos Ini Masih Dipercaya?

Meskipun zaman telah berubah dan pendidikan semakin meluas, mitos kejatuhan cicak masih banyak dipercaya. Hal ini karena kepercayaan tradisional cenderung sulit dilepaskan dari masyarakat yang menjunjung tinggi adat dan nilai-nilai leluhur.

Ditambah lagi, adanya pengalaman pribadi yang dianggap “kebetulan” sering kali memperkuat keyakinan seseorang terhadap mitos tersebut.

BACA JUGA: 6 Mitos Kucing yang Diam-diam Membentuk Budaya Lokal Indonesia

BACA JUGA: Mitos vs Fakta Mengolah Daging Kurban yang Masih Sering Bikin Orang Bingung

Kategori :