Ekspansi sektor pertanian didorong adanya panen raya tanaman pangan, meningkatnya permintaan hasil pertanian dan peternakan selama Ramadhan dan Idulfitri dan harga jual yang tetap menarik. Serta kemudahan akses barang input seperti pupuk dan obat-obatan.
BACA JUGA: Dukung Desa Binaan, BRI Dorong Usaha Camilan Menjadi Produk Oleh-oleh Unggulan Lewat BRILiaN
BACA JUGA: BRI Fasilitasi Sertifikasi Halal bagi UMKM Lewat Program BRI Peduli
Aktivitas sektor pertambangan dan konstruksi mengalami kontraksi akibat cuaca yang kurang kondusif bagi sektor ini, karena musim hujan. Lesunya permintaan dari proyek pemerintah dan swasta pada awal tahun anggaran, serta kenaikan harga material.
Ekspansi sektor industri pengolahan dan perdagangan ditopang oleh meningkatnya permintaan selama puasa dan hari raya. Juga karena adanya perbaikan daya beli konsumen seiring pemberian tunjangan hari raya, bantuan sosial, serta hasil panen tanaman pangan dan hortikultura yang bagus.
Kinerja sektor hotel dan restoran menurun akibat waktu operasional yang lebih pendek. Serta sebagian tutup selama Ramadhan.
Lebih lanjut, sektor pengangkutan tumbuh moderat ditopang permintaan jasa transportasi untuk mudik selama hari raya. Aktivitas sektor jasa tumbuh melambat karena turunnya permintaan jasa selama bulan puasa.
BACA JUGA: Tunjukkan Kinerja Positif, BRI Fokus Himpun Dana Murah Perkuat Struktur Pendanaan Jangka Panjang
Menurut Corporate Secretary BRI Agustya Hendy Bernadi meskipun ekspansi UMKM membaik di Triwulan I/2025, pelaku usaha masih menghadapi kendala. Seperti daya beli yang belum pulih sepenuhnya, naiknya harga barang input sektor industri pengolahan dan konstruksi, serta ketatnya persaingan di sektor perdagangan dan transportasi.
“Karena tantangan itu, pelaku UMKM memperkirakan pertumbuhan yang lebih moderat pada Q2-2025. Seperti tercermin pada Indeks Ekspektasi Bisnis yang turun ke 119,2 dari 120,4, namun tetap di atas 100,” ujar Hendy.
Menurutnya, moderasi pertumbuhan pada Q2-2025 juga didorong beberapa faktor. Antara lain, normalisasi permintaan dan produksi pada sektor manufaktur dan perdagangan pasca-Idulfitri.
Selanjutnya, faktor daya beli konsumen yang belum pulih dalam waktu dekat, naiknya harga barang input sektor industri dan konstruksi. Serta prospek ekonomi yang diperkirakan tumbuh lebih lambat di 2025.
BACA JUGA: UMKM Perhiasan Asal Mojokerto Makin Bersinar dan Siap Go Global Berkat Dukungan BRI
Sejalan dengan bisnis UMKM yang masih mengalami ekspansi, sentimen pebisnis UMKM terhadap perekonomian dan usaha secara umum tetap baik. Itu, tecermin pada Indeks Sentimen Bisnis (ISB) UMKM Q1-2025 yang berada pada level 114,1.