Bukan Kebiri, Herry Wirawan Predator Santriwati Diminta Dihukum Mati
Dalam beberapa hari terakhir, kasus kekerasan seksual yang dilakukan predator anak di sebuah boarding school yang disebut pondok pesantren menyita perhatian publik.
Aksi tidak patut yang dilakukan Herry Wirawan (HW) terhadap 12 santriwati di Kota Bandung menjadi sorotan masyarakat Indonesia. Khususnya yang berkaitan dengan pondok pesantren.
Mereka mengecam dan mengutuk aksi bejat HW dan meminta aparat penegak hukum memberi hukuman seberat-beratnya.
"PWNU Jatim melalui bahtsul masail tidak merekomendasikan hukuman kebiri. PWNU Jatim lebih merekomendasikan hukuman seumur hidup atau hukuman mati," tegas Wakil Ketua PWNU Jatim KH Abdussalam Shohib, di Surabaya, Senin (13/12).
Dikutip dari RMOL, PWNU sebelumnya telah membahas hukuman bagi pelaku pedofilia dan tidak merekomendasikan hukuman kebiri.
"Hukum Islam ketika hukuman kebiri maka tidak akan sesuai di syariat hukuman Islam. Kebiri tidak sesuai untuk penyalahgunaan seksual, maka itu, bahtsul masail kita memutuskan hukuman seberatnya," jelas pria yang karib disapa Gus Salam ini.
Ditambahkan Wakil Katib Rais Syuriah PWNU Jatim KH Romadhon Khotib, pelaku perbuatan zina termasuk melanggar asusila harus dihukum ta'zir.
"Ta'zir itu tidak bisa diganti uang, tapi harus dihukum berat. Kalau hukumannya kebiri masih menyalahi, karena menyiksa selamanya. Ta'zir itu hukum berat, kalau hukum terberat tidak jera, maka sampai hukuman mati sah menurut tinjauan fiqih kita. Dihukum berat atau mati, hanya itu dua pilihan sesuai kaidah fiqih kita," bebernya.
"Ta'zir untuk diganti dengan harta benda gak bisa. Meski diganti hukuman lain, yang sifatnya pendidikan, itu ditolak ulama-ulama kita," tutup Romadhon Khotib. (rmol.id/ima)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: