Ketika Target Kerja Mengorbankan Kesehatan Mental

Kamis 01-10-2026,19:56 WIB
Editor : Khikmah Wati

Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya seberapa tinggi tuntutan pekerjaan, tetapi juga seberapa besar sumber daya dan dukungan yang tersedia untuk menghadapi tuntutan tersebut. Maka, target yang tinggi semestinya berjalan bersama dengan dukungan yang memadai: sumber daya manusia, fasilitas, kejelasan tugas, komunikasi, penghargaan, serta kepemimpinan yang sehat.

Di sinilah peran pimpinan menjadi sangat penting. Pemimpin tidak hanya bertugas bertanya, Sudah mencapai target? Pemimpin juga perlu bertanya: Apa yang membuat target itu sulit dicapai? Apa yang dibutuhkan tim? Apakah beban kerja sudah proporsional?.  Dan yang tidak kalah penting:Bagaimana kondisi orang-orang yang bekerja bersama kita?

Jangan Sampai Organisasi Terlihat Harmonis Karena Semua Orang Diam

Ada persoalan lain yang lebih sulit terlihat. Organisasi bisa tampak tenang, tidak banyak konflik dan semua orang terlihat patuh.

Tetapi belum tentu semuanya sehat. Bisa saja orang memilih diam karena takut berbicara. Takut dianggap tidak loyal. Takut kariernya terganggu. Takut mendapat label sebagai pembuat masalah.

Inilah yang dapat melahirkan false harmony—harmoni semu. Tidak ada suara keberatan bukan berarti tidak ada masalah. Tidak ada keluhan bukan berarti semua orang bahagia.

Tidak ada konflik terbuka bukan berarti organisasi berjalan sehat. Justru organisasi yang sehat adalah organisasi yang memungkinkan orang menyampaikan masalah sebelum masalah tersebut menjadi lebih besar.

Jangan Selalu Menyalahkan Generasi Muda

Dalam beberapa tahun terakhir, ketika terjadi turnover tinggi, generasi muda sering menjadi sasaran kritik. Mereka dianggap kurang tahan tekanan, terlalu sensitif atau mudah berpindah pekerjaan.

Pandangan seperti itu terlalu sederhana jika digunakan untuk menjelaskan seluruh persoalan turnover. Pergantian karyawan dapat dipengaruhi banyak faktor: kompensasi, kesempatan berkembang, gaya kepemimpinan, beban kerja, hubungan dengan atasan dan rekan kerja, keseimbangan kehidupan kerja, maupun persepsi terhadap masa depan di organisasi. Karena itu, ketika seseorang memilih meninggalkan perusahaan, pertanyaannya jangan hanya:

Mengapa dia tidak kuat?, tetapi juga Apa yang membuat dia memilih pergi?. Pertanyaan kedua mungkin jauh lebih berguna bagi organisasi untuk melakukan perbaikan.

HR Bukan Sekadar Penjaga Administrasi

Dalam konteks ini, HR memiliki peran yang semakin strategis. HR tidak cukup hanya mengurus absensi, payroll, rekrutmen dan administrasi kepegawaian. HR juga perlu menjadi penjaga employee experience dan kesehatan organisasi.

Bukan berarti HR harus menjadikan tempat kerja bebas tekanan. Justru HR perlu membantu organisasi menemukan keseimbangan: bagaimana target tetap tercapai, tetapi manusia tidak kehilangan kesehatan, motivasi dan rasa memiliki.

Program kesehatan mental juga tidak cukup hanya berupa seminar satu hari. Yang lebih penting adalah membangun budaya sehari-hari: komunikasi terbuka, kepemimpinan yang sehat, penghargaan terhadap kinerja, mekanisme penyelesaian konflik, beban kerja yang wajar, serta ruang bagi karyawan untuk menyampaikan persoalan.

Karena di Balik Setiap Target Ada Manusia

Pada akhirnya, angka produktivitas hanyalah hasil. Di balik setiap angka ada manusia yang bekerja. Di balik target ada waktu yang diberikan. Di balik pencapaian ada energi yang dikeluarkan.

Dan di balik keberhasilan organisasi ada manusia yang seharusnya tetap memiliki kehidupan yang sehat dan bermakna. Karena itu, mengejar target bukan sesuatu yang harus dihentikan. Yang perlu dihentikan adalah cara berpikir bahwa target selalu lebih penting daripada manusia yang mencapainya.

Organisasi yang berkelanjutan bukan organisasi yang mampu memeras tenaga manusia sampai batas terakhir.

Organisasi yang berkelanjutan adalah organisasi yang mampu membuat manusia produktif tanpa kehilangan kesehatan, berkembang tanpa kehilangan keseimbangan, dan bekerja keras tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Kategori :