Ketika Target Kerja Mengorbankan Kesehatan Mental

Kamis 01-10-2026,19:56 WIB
Editor : Khikmah Wati

Oleh: Erni Unggul S.U

Ketua Forum HRD, Dosen S 1 Prodi Manajemen, Direktur Komunikasi & Kerjasama Universitas Harkat Negeri

TEGAL, radartegal.com- Target adalah bagian yang tidak terpisahkan dari dunia kerja. Tanpa target, organisasi akan kesulitan mengukur arah, kinerja dan pencapaian.

Perusahaan membutuhkan produktivitas, efisiensi dan hasil. Pekerja pun dituntut untuk terus berkembang dan memberikan kinerja terbaik. Namun, ada pertanyaan yang layak kita renungkan: sampai sejauh mana target boleh dikejar ketika kesehatan mental manusia mulai menjadi korbannya?

Pertanyaan ini semakin relevan di tengah dunia kerja yang bergerak cepat. Target berubah, teknologi berkembang, tuntutan pelanggan meningkat, sementara jumlah pekerjaan dan ekspektasi terhadap karyawan sering kali tidak ikut berkurang.

Dalam kondisi tertentu, tekanan kerja memang dapat menjadi pemicu seseorang untuk berkembang. Deadline membuat kita bergerak lebih cepat. Target mendorong kita keluar dari zona nyaman.

Kompetisi membuat kita berusaha meningkatkan kemampuan. Tetapi tekanan memiliki batas. Ketika tekanan berlangsung terus-menerus tanpa dukungan yang memadai, persoalannya bukan lagi sekadar tentang bagaimana karyawan bekerja lebih keras.

Persoalannya adalah apakah sistem kerja yang dibangun masih mampu menjaga manusia tetap sehat secara fisik maupun mental.

Ketika Lelah Dianggap Tidak Profesional

Ada budaya yang secara tidak sadar masih berkembang di sejumlah tempat kerja: orang yang kuat adalah orang yang tidak mengeluh. Ketika seseorang mengatakan lelah, ia dianggap kurang tangguh.

Ketika meminta bantuan, dianggap tidak mampu. Ketika mempertanyakan beban kerja, dianggap tidak memiliki komitmen.

Akibatnya, banyak pekerja memilih diam. Padahal diam tidak selalu berarti baik-baik saja.

Seseorang bisa tetap datang ke kantor, menyelesaikan pekerjaan, menghadiri rapat dan memenuhi target, tetapi secara psikologis sudah mengalami kelelahan yang luar biasa. Kajian sistematis yang diterbitkan dalam Human Resource Management Review pada 2024, yang menelaah 341 studi, menunjukkan bahwa kesehatan mental dan kesejahteraan pekerja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari faktor individu hingga faktor organisasi dan lingkungan kerja.

Artinya, kesehatan mental tidak tepat jika semata-mata dibebankan sebagai tanggung jawab individu. Inilah yang perlu diperhatikan oleh organisasi. Jangan sampai kita hanya mengukur berapa banyak pekerjaan yang selesai, tetapi tidak pernah bertanya bagaimana kondisi manusia yang menyelesaikannya.

Target Tinggi Bukan Masalah

Target tinggi sebenarnya bukan masalah. Yang menjadi persoalan adalah ketika target tidak lagi menjadi alat untuk mengarahkan kinerja, tetapi berubah menjadi tekanan yang mengabaikan kapasitas manusia.

Target yang sehat seharusnya memiliki ukuran yang jelas, realistis, dapat dikomunikasikan, dan disertai dukungan sumber daya yang memadai. Penelitian meta-analisis mengenai burnout juga menunjukkan adanya hubungan antara tingginya tuntutan pekerjaan, rendahnya sumber daya yang tersedia, dan munculnya burnout.

Kategori :