Doom Spending: Ketika Belanja Menjadi Pelarian dari Stres

Doom Spending: Ketika Belanja Menjadi Pelarian dari Stres

--

Tim penulis:

Mahasiswa Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pancaskti Tegal.

1. Andini Maylani - NIM : 4124600132

2. Nia Rahmawati - NIM : 4124600105

radartegal.com - Belanja tidak selalu berangkat dari kebutuhan. Bagi sebagian orang, membeli barang menjadi cara untuk mencari kelegaan saat menghadapi tekanan. Fenomena ini dikenal sebagai doom spending, dan kini makin sering dibicarakan di kalangan Generasi Z.

Mengapa Gen Z Rentan?

Dalam pemberitaan NU Online pada 3 Januari 2025, psikolog klinis Bianglala Andriadewi menjelaskan bahwa Gen Z mudah terpapar gaya hidup glamor di media sosial dan kerap tergoda mengikuti tren meski tidak sesuai kebutuhan. Faktor ekonomi ikut berperan. Generasi ini tumbuh di tengah ketidakpastian, mulai dari pandemi, inflasi, ancaman resesi, hingga tingginya biaya hidup, sehingga sebagian mengadopsi pola pikir You Only Live Once (YOLO). Selain itu, ketidakpastian lapangan kerja dan inflasi menambah kecemasan.

Perspektif Ekonomi dan Bisnis

Bagi pelaku usaha, fenomena ini membuka peluang pasar yang besar. Namun bagi konsumen, risikonya nyata: pengeluaran yang tidak terkontrol bisa mengikis tabungan, memicu utang konsumtif, dan akhirnya memperburuk stres yang ingin dihindari. Di sinilah literasi keuangan menjadi penting, terutama bagi mahasiswa yang baru belajar mengelola uang sendiri.

Mengenali Pemicu dan Mengatur Pengeluaran

Langkah awal yang dapat dilakukan adalah memperhatikan alasan sebelum membeli. Apakah barang tersebut memang diperlukan, atau pembelian dilakukan untuk mencari pengalihan dari rasa stres? Mengenali keadaan emosi membantu seseorang memahami dorongan.

Dari sisi keuangan, OJK melalui Sikapi Uangmu menyarankan penyusunan rencana pengeluaran dan penyisihan pemasukan untuk ditabung sebelum digunakan berbelanja. Meninjau transaksi secara berkala juga membantu melihat apakah pengeluaran masih sesuai rencana.

Mengurangi paparan konten yang memicu keinginan mengikuti gaya hidup orang lain serta mencari kegiatan alternatif juga dapat menjadi bagian dari upaya mengendalikan kebiasaan belanja. Dengan demikian, pengelolaan emosi tidak hanya bergantung pada pembelian barang.

Menghadapi doom spending bukan berarti melarang diri menikmati hasil kerja. Tujuannya adalah menjaga agar keputusan belanja tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan, bukan semata-mata didorong oleh kecemasan. Kesadaran terhadap emosi dan perencanaan keuangan menjadi bekal penting untuk menjaga keseimbangan tersebut.

NU Online, “Fenomena Doom Spending di Kalangan Gen Z dan Cara Mengatasinya Menurut Psikolog”: https://nu.or.id/kesehatan/fenomena-doom-spending-di-kalangan-gen-z-dan-cara-mengatasinya-menurut-psikolog-LAZHf

Kompas TV, “Mengenal Arti Doom Spending di Kalangan Gen Z”: https://www.kompas.tv/lifestyle/679938/mengenal-arti-doom-spending-di-kalangan-gen-z

Metrotvnews, “Mengenal Tren Doom Spending Gen Z dan Cara Mengatasinya”: https://www.metrotvnews.com/read/NrWCopx2-mengenal-tren-doom-spending-gen-z-dan-cara-mengatasinya

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: