SLAWI, radartegal.com - Hasil penelitian atau suvei yang dilakukan tim arkeologi dari Universitas Indonesia (UI) terhadap Situs Candi Gong Tegal cukup mengejutkan. Terungkap sejumlah fakta sejarah yang selama ini terkubur di tengah area persawahan produktif di Kabupaten Tegal itu.
Survei arkeologi Situs Candi Gong Tegal dipimpin Prof Agus Aris Munandar, Guru Besar Arkeologi dan Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dilaksanakan pada 8 Maret 2026.
Survei ini berhasil mengungkap indikasi kuat bahwa Situs Candi Gong di Kabupaten Tegal merupakan bangunan suci Hindu-Saiwa kuno dengan karakter yang berbeda dari candi pada umumnya.
Lokasi situs kini berada di tengah hamparan persawahan produktif. Namun di masa lampau, kawasan tersebut diduga masih berupa hutan alami sebelum mengalami pembukaan lahan oleh masyarakat.
BACA JUGA:Wacana Restorasi Situs Candi Gong Sidamulya Tegal: Mengungkap Sejarah Peradaban Kuno di Tlatah Tegal
BACA JUGA:Situs Kuno tapi Instagramable yang Ada di Jawa Tengah
Hasil Survei Arkeologi Candi Gong Tegal
Temuan utama di lokasi berupa gundukan tanah atau gumuk yang ditumbuhi semak dan pepohonan. Struktur tanah yang meninggi di bagian tengah dan menurun di sisi-sisinya menjadi petunjuk kuat adanya bangunan kuno yang telah lama tertimbun.
Di bagian tepi situs, terutama sisi selatan, ditemukan banyak pecahan bata yang semakin menguatkan dugaan tersebut.
“Pada kedalaman sekitar 40 hingga 60 sentimeter, alat bor sederhana sudah menyentuh struktur bata. Ini menunjukkan adanya bangunan yang terkubur,” ungkap Prof Agus Aris Munandar dalam laporan surveinya.
Bangunan Candi Menghadap Timur
Dari pengamatan topografi, bangunan candi diduga menghadap ke arah timur. Hal ini ditandai dengan adanya tonjolan tanah di sisi timur yang menyerupai bekas bagian depan candi atau akses tangga menuju ruang utama.
BACA JUGA:Situs Semedo Tegal, Jejak Kehidupan Homo Erectus dan Fauna Purba di Jawa Tengah
BACA JUGA:Yayasan Rukun Terima Apresiasi dari DLH Kabupaten Tegal
Penemuan penting lainnya adalah artefak berupa Yoni dalam kondisi rusak yang berada di tengah situs. Dalam ajaran Hindu-Saiwa, Yoni merupakan simbol Dewi Parwati atau Pertiwi yang berpasangan dengan Lingga sebagai lambang Dewa Siwa.
Namun, dalam temuan kali ini, Lingga tidak ditemukan dan diduga telah hilang atau masih tertimbun di dalam tanah.
Meski demikian, keberadaan Yoni tetap menjadi indikator kuat bahwa situs tersebut merupakan tempat pemujaan Hindu-Saiwa. Dalam tradisi tersebut, Lingga-Yoni melambangkan kesatuan kosmis sekaligus sumber kesuburan.