SLAWI, radartegal.com - Penyakit campak mengintai Kabupaten Tegal. Sejak Januari hingga 3 April 2026, tercatat sebanyak 47 kasus suspek klinis campak.
Meski demikian, hingga saat ini belum diinformasikan kasus positif campak di Kabupaten Tegal. Sebab dari 47 kasus suspek, semuanya belum menjalani pemeriksaan laboratorium.
Karena itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal waspada dan siaga Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di wilayahnya. Mengingat cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino berpotensi memperparah penyebaran penyakit tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Tegal, Amin Yunianto, mengungkapkan bahwa keterbatasan fasilitas menjadi kendala utama belum dilakukannya uji laboratorium.
BACA JUGA:Bahaya Tramadol dan Tembakau Gorila di Tegal: Dari Risiko Stroke Muda hingga Gangguan Jiwa
BACA JUGA:Ketua DPRD Kabupaten Tegal Berharap Bendung Cipero Segera Dipulihkan
“Pemeriksaan campak harus dikirim ke laboratorium tingkat provinsi atau BBLabkesmas Yogyakarta. Sementara saat ini, ketersediaan reagen masih terbatas,” ujar Amin, Rabu, 8 April 2026.
Pencegahan KLB Campak di Kabupaten Tegal
Meski begitu, Dinkes tidak tinggal diam. Sejumlah langkah strategis langsung digeber untuk mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB) campak. Salah satunya dengan memperkuat capaian imunisasi MR hingga minimal 95 persen.
Selain itu, imunisasi kejar juga dilakukan di wilayah yang ditemukan kasus suspek. Penguatan surveilans campak-rubella pun terus ditingkatkan guna mempercepat deteksi dan penanganan kasus di lapangan.
Tak hanya campak, ancaman penyakit lain juga ikut mengintai. Dinkes mencatat, kondisi El Nino yang memicu cuaca panas dan kering berpotensi meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, hingga penyakit berbasis lingkungan lainnya.
BACA JUGA:Terima Audiensi OJK, Bupati Tegal Dorong Literasi Keuangan dan Akses Permodalan UMKM
BACA JUGA:Bupati Tegal Tegaskan Komitmen Antikorupsi Jajaran Pemda
“Kami terus memonitor pelaporan mingguan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), terutama untuk penyakit seperti ISPA, diare, termasuk campak,” jelas Amin.
Ia menambahkan, kekeringan akibat El Nino dapat memperburuk kualitas lingkungan, yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Karena itu, warga diminta meningkatkan kewaspadaan dan disiplin menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Langkah sederhana namun krusial pun ditekankan. Mulai dari memastikan air minum matang, mencuci tangan sebelum makan, hingga mengelola air bersih secara bijak agar tidak menjadi sarang penyakit.