Dongkrak UMKM, Kebijakan Sarung Batik di Pemprov Jateng Menuai Pujian

Jumat 28-11-2025,17:00 WIB
Reporter : Khikmah Wati
Editor : Khikmah Wati

Radartegal.com- Kebijakan wajib sarung batik atau lurik bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap Jumat yang diterapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) menuai pujian.

Selain menunjukkan identitas Jawa Tengah, kebijakan penggunaan pakaian itu juga mampu mendongkrak pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang bergerak dalam kerajinan batik.  

"Sarung (batik dan lurik) itu kan khas, pakaian adat ya," kata Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin usai mengikuti Rapat Paripurna tentang Rancangan Peraturan Daerah APBD  Tahun Anggaran  2026, di Gedung Berlian, Kota Semarang, Jumat, 28 November 2025.

Menurutnya, sarung merupakan kekhasan yang dimiliki masyarakat Indonesia. Sarung juga bukan identitas umat salah satu agama, karena sudah lazim digunakan masyarakat lintas agama sebagaimana peci hitam. 

BACA JUGA: 2 Desember 2025, Akhmad Munir Siap Lantik Pengurus PWI Jateng 2025-2030

BACA JUGA: Genjot PAD di 2026, Pemprov Jateng Terapkan Strategi Ini

Apalagi, kata Taj Yasin, batik khas Indonesia sudah diakui United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco) sebagai warisan budaya tak benda pada 2019. 

Dia mengatakan, penggunaan sarung batik/lurik oleh ASN Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga berdampak dari sisi ekonomi. Sebab, penggunaannya mampu menyerap produksi dari pelaku UMKM.  

“Dengan kebijakan ini, diharapkan pembelian sarung dari UMKM yang ada di Jawa Tengah ini akan lebih meningkat," ucap pria asal Kabupaten Rembang tersebut.

Apalagi, lanjut dia, produk sarung batik/lurik produksi Indonesia juga sudah merambah pasar dunia. Seperti, diekspor ke Eropa, Afrika, dan sejumlah negeri-negara di Asia. 

Dosen Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Wahid Abdurahman menilai, sarung batik adalah bagian dari budaya yang memiliki akar kuat dalam tradisi masyarakat di Jawa. 

“Maka dengan memakai sarung batik setidaknya sekali dalam seminggu, ada sebuah harapan untuk membangun kepribadian dalam budaya,” kata dia. 

Memang, lanjut dia, harus diakui memang ada nuansa religi dalam sarung yang selama ini erat dengan santri. 

Namun, menurutnya tradisi sarung tidak saja tumbuh di kalangan santri di Jawa, di Malaysia, bahkan di India pun sudah lama tumbuh. 

Kategori :