Radartegal.com - Tren kuliner modern kini semakin kreatif, namun ada satu hidangan tradisional yang diam-diam mencuri perhatian, Gatot namanya. Makanan ini sederhana, tapi punya cerita panjang tentang kearifan lokal dan ketahanan pangan masyarakat pedesaan Jawa.
Teksturnya unik, rasanya khas, dan aromanya berbeda dari olahan singkong biasa. Sekali mencicipi, kamu akan merasakan sensasi gurih, sedikit asam, dan aroma khas fermentasi yang bikin penasaran.
Asal Usul Gatot yang Sarat Makna
Gatot berasalari daerah pedesaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, khususnya di wilayah pegunungan. Dulu, makanan ini lahir bukan dari kelimpahan, tapi dari keterbatasan. Saat paceklik melanda dan beras sulit didapat, masyarakat mengolah singkong yang hampir busuk menjadi makanan lezat bernilai gizi tinggi.
Proses fermentasi alami membuat singkong yang dikeringkan berubah warna menjadi kehitaman dan punya rasa khas. Inilah yang kemudian dikenal sebagai gatot, simbol kecerdikan masyarakat desa dalam menghadapi kondisi sulit.
BACA JUGA:4 Makanan Tradisional Wonosobo yang Tak Kalah Enak dari Mie Ongklok yang Terkenal
BACA JUGA:Nikmati Cita Rasa Nusantara Lewat 7 Makanan Tradisional Jawa Tengah Ini
Proses Pembuatan yang Unik dan Alami
Bahan dasar gatot adalah singkong yang dibiarkan setengah membusuk secara alami. Kemudian dijemur hingga benar-benar kering. Setelah itu, gatot direbus hingga mengembang dan empuk, lalu disajikan dengan parutan kelapa dan sedikit garam.
Aroma fermentasinya yang khas langsung terasa saat gatot direbus, menghasilkan cita rasa gurih, agak asam, dan kenyal yang tidak bisa ditemukan pada makanan singkong biasa. Inilah yang membuatnya unik dan berbeda dari olahan singkong lainnya seperti tiwul atau getuk.
Gatot dalam Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Desa
Hingga kini, gatot masih sering dijumpai di pasar-pasar tradisional atau dijajakan sebagai camilan sarapan di desa. Biasanya disajikan hangat dengan taburan kelapa parut yang baru diparut pagi itu, membuatnya sederhana tapi mengenyangkan.
Bagi masyarakat desa, gatot bukan sekadar makanan pengganti nasi, tapi juga bagian dari warisan budaya yang patut dijaga. Banyak keluarga yang masih mempertahankan cara pengolahan gatot secara tradisional, tanpa bahan pengawet atau mesin modern.
BACA JUGA:Tegean Kuliner Sehat khas Banyumas yang Mulai Dilirik Pecinta Makanan Tradisional
BACA JUGA:5 Makanan Hangat Khas Pekalongan yang Cocok Disantap saat Musim Hujan
Gatot di Era Modern
Menariknya, sekarang gatot mulai naik pamor di dunia kuliner kota. Beberapa kafe dan UMKM mulai mengemas gatot dalam tampilan modern, bahkan dijadikan oleh-oleh khas daerah dengan kemasan estetik. Meski tampilannya lebih kekinian, rasa otentik gatot tetap jadi daya tarik utama.
Hal ini membuktikan bahwa makanan tradisional bisa beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Gatot bukan hanya sekadar makanan tempodulu, tapi juga simbol reativitas lokal yang relevan hingga sekarang.
Gatot mengajarkan kita bahwa kesederhanaan bisa melahirkan kelezatan yang tak tergantikan. Dari singkong yang hampir terbuang, tercipta hidangan khas yang mengenyangkan dan penuh cerita sejarah.