Mitos Malam Satu Suro pada Jumat Kliwon dalam Budaya Jawa

Kamis 26-06-2025,10:30 WIB
Reporter : Aditya Saputra
Editor : Adi Mulyadi

Dipercaya bahwa pada malam ini, pintu antara dunia nyata dan dunia gaib terbuka, sehingga arwah leluhur turun ke bumi dan makhluk astral lebih bebas berkeliaran.

Hal ini menjadi dasar praktik-praktik spiritual seperti ziarah kubur, doa leluhur, dan pembersihan benda pusaka, yang diyakini sebagai bentuk penghormatan kepada roh yang sedang kembali.

BACA JUGA:Deretan Mitos Mistis Seputar Gunung Merapi yang Masih Hidup

BACA JUGA:Jangan Sembarangan! Ini Fakta dan Mitos Mengoleskan Pasta Gigi pada Luka Bakar

3. Pantangan Keras Selama Bulan Suro

Bulan Suro secara umum dianggap sebagai waktu yang tidak cocok untuk melakukan acara besar seperti pernikahan, pindah rumah, sunatan, atau hajatan lainnya.

Keyakinan ini berasal dari mitos bahwa bulan Suro adalah bulan ‘bertirakat’, bukan bersenang-senang. Banyak masyarakat juga melakukan tirakat tapa bisu, yaitu ritual diam tanpa berbicara sebagai bentuk pengendalian diri.

Di Yogyakarta, tradisi Mubeng Beteng berjalan kaki mengelilingi Keraton Yogyakarta tanpa suara menjadi simbol kontemplasi dan penguatan spiritual.

4. Nyai Roro Kidul dan Pasukan Gaibnya

Salah satu mitos yang paling dikenal adalah kehadiran Nyai Roro Kidul, ratu laut selatan yang dipercaya mengutus pasukan gaibnya untuk berkeliling pada malam ini.

BACA JUGA:7 Mitos di Kebiasaan Sehari-hari yang Seringkali Menyesatkan

BACA JUGA:Benarkah Mitos Mandi Malam Hari Bisa Sebabkan Rematik? Ini Penjelasan Medisnya

Fenomena angin kencang atau ombak besar yang muncul di sepanjang pantai selatan Jawa kerap dihubungkan dengan pergerakan pasukan tersebut. Masyarakat pun disarankan tidak berada di kawasan pantai selatan pada malam tersebut.

Menurut buku “Mistisisme dalam Budaya Jawa” oleh Dr. Sularso Soemardjan (Balai Pustaka, 2001), kepercayaan terhadap Nyai Roro Kidul adalah bagian dari sinkretisme budaya Jawa antara kepercayaan lokal, animisme, dan Islam.

5. Hujan Bertuah

Jika hujan turun pada malam Jumat Kliwon bertepatan 1 Suro, airnya diyakini memiliki khasiat spiritual. Banyak masyarakat menadah air hujan tersebut untuk digunakan sebagai "air penerang hati", penolak bala, atau sarana membersihkan energi negatif dalam rumah.

Ritual dan Tradisi yang Dilakukan

Masyarakat Jawa tidak sekadar mempercayai mitos tersebut, tetapi juga melestarikan ritual-ritual turun-temurun seperti:

BACA JUGA:Mitos Ratu Air di Sungai Brantas yang Konon Memakan Korban

BACA JUGA:Terungkap! Ini 5 Mitos Paling Melegenda di Gunung Salak Jawa Barat

  • Doa bersama di makam leluhur
  • Mandi kembang atau air kembang tujuh rupa
  • Pembersihan pusaka keramat
  • Membuat sesaji atau tumpeng
  • Melakukan puasa mutih atau nglowong (berpuasa tanpa makan selain nasi putih dan air putih)
Kategori :