TEGAL, radartegal.com - Sebuah lahan kosong di Gang Ujung Pandang, Jalan Sultan Hasanudin, RT 1 RW 1 Kelurahan Tunon, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal, menyimpan rekam jejak perjuangan kemerdekaan. Tempat ini pernah menjadi lokasi persembunyian strategis bagi pasukan tentara Republik Indonesia di bawah pimpinan Kapten Sudibyo saat Agresi Militer Belanda I meletus.
Kisah sejarah ini terus hidup dan dituturkan secara turun-temurun oleh warga lokal serta keturunan pemilik rumah asli. Jejak perjuangan tersebut menjadi pengingat nyata akan pengorbanan besar warga Tegal dalam mempertahankan kedaulatan negara.
Trik Penyamaran Pasukan Kapten Sudibyo Mengelabui Belanda
Pada masa Agresi Militer Belanda I, berdiri sebuah rumah kayu sederhana milik warga bernama Dasmi di tengah area kebun tersebut. Rumah ini difungsikan sebagai tempat bermalam sekaligus basis persembunyian pasukan Kapten Sudibyo, yang menjabat sebagai Komandan Sektor S Tegal Barat.
Untuk menghindari kecurigaan patroli tentara Belanda, para pejuang menerapkan taktik penyamaran yang cerdik. Sebagian anggota pasukan berbaur dengan masyarakat lokal dan berpura-pura menjadi petani biasa, lengkap dengan aktivitas mencangkul di sekitar kebun.
BACA JUGA:Misteri Batu Merah Simpang Gili Tugel Tegal, Benarkah Terkait Titik Nol dan Warisan Sejarah?
BACA JUGA:Sejarah Tersembunyi Pasar Pagi Tegal dan Jejak Sumur Kuno Bupati Kaloran
Pengkhianatan Mata-Mata dan Aksi Pembakaran Rumah
Penyamaran yang disusun rapi tersebut akhirnya terbongkar akibat ulah mata-mata Belanda. Informan tersebut melaporkan keberadaan rumah Dasmi yang dijadikan tempat perlindungan pasukan Republik kepada pihak musuh.
Mendapat informasi tersebut, tentara Belanda bergerak dan membakar habis rumah berdinding kayu itu. Beruntung, seluruh anggota pasukan Kapten Sudibyo telah mengosongkan lokasi sebelum pasukan Belanda tiba, sehingga tidak ada korban jiwa dari pihak pejuang.
Trauma Keluarga dan Kondisi Lahan Saat Ini
Aksi pembakaran tersebut memaksa keluarga Dasmi mengungsi ke area tanah di sebelah lokasi kejadian. Peristiwa memilukan ini menyisakan trauma mendalam hingga rumah tersebut tidak pernah dibangun kembali.
Lahan seluas kira-kira 12x15 meter tersebut kini dibiarkan kosong tanpa bangunan. Keterangan ini dikonfirmasi oleh Imron Rosyadi, cicit dari Dasmi yang saat ini menjabat sebagai Lurah Mintaragen, Kota Tegal. Imron mendapatkan cerita ini langsung dari buyutnya dan sang nenek, Taswi, yang menyaksikan peristiwa tersebut.
BACA JUGA:Pererat Ikatan Sejarah, Momentum Ziarah ke Makam Bupati Kendal di Tegal Jadi Teladan
BACA JUGA:Menguak Misteri Situs Watu Lumpang Balapulang Tegal, Jejak Sejarah yang Tersembunyi di Hutan Jati
"Keluarga buyut Dasmi akhirnya mengungsi," ujar Imron Rosyadi saat menceritakan kembali peristiwa bersejarah tersebut pada Kamis (13/8/2026).
Hal senada diungkapkan oleh Hendrik, warga setempat yang menerima cerita sejarah kampung tersebut dari ayahnya. Sejak tahun 1980, kepemilikan tanah telah beralih ke warga Debong Tengah yang saat ini menetap di Jakarta.
Meski kepemilikan telah berganti, lahan tersebut tetap difungsikan untuk kepentingan sosial masyarakat Tunon. Lahan ini dimanfaatkan sebagai lokasi pos keamanan lingkungan (poskamling) serta tempat penyelenggaraan berbagai lomba perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia setiap bulan Agustus. Bagi warga, menjaga ingatan sejarah di lahan tersebut merupakan bentuk penghormatan atas jasa para pahlawan.
Ringkasan Cepat
- Lokasi Sejarah: Lahan seluas 12x15 meter di Gang Ujung Pandang, Kelurahan Tunon, Kota Tegal, merupakan tempat persembunyian pasukan Kapten Sudibyo (Komandan Sektor S Tegal Barat) saat Agresi Militer Belanda I.
- Taktik Penyamaran: Anggota pasukan berpura-pura menjadi petani dan bercocok tanam di kebun milik Dasmi untuk mengelabui musuh.
- Insiden Pembakaran: Rumah kayu milik Dasmi dibakar tentara Belanda setelah dibocorkan oleh mata-mata, namun pasukan berhasil meloloskan diri tanpa korban jiwa.
- Peralihan & Alih Fungsi: Lahan yang dibiarkan kosong sejak pembakaran tersebut berpindah kepemilikan pada 1980 dan kini digunakan warga untuk poskamling serta kegiatan Agustusan.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Apa yang terjadi di Kelurahan Tunon Tegal saat Agresi Militer Belanda I?
- Lahan milik Dasmi di Kelurahan Tunon dijadikan tempat persembunyian dan markas sementara pasukan Republik Indonesia pimpinan Kapten Sudibyo. Pasukan ini menyamar sebagai petani sebelum lokasi tersebut akhirnya dibakar oleh tentara Belanda.
Siapa Kapten Sudibyo dalam sejarah perjuangan di Tegal?
- Kapten Sudibyo adalah Komandan Sektor S Tegal Barat yang memimpin pasukan Republik Indonesia dalam bergerak dan memimpin perlawanan gerilya melawan tentara Belanda di wilayah Tegal dan sekitarnya.
Bagaimana kondisi tempat persembunyian Kapten Sudibyo sekarang?
- Rumah kayu tempat persembunyian sudah tidak ada karena dibakar Belanda. Lahannya seluas 12x15 meter kini menjadi area kosong yang dimanfaatkan warga sekitar untuk pos keamanan lingkungan dan kegiatan perayaan HUT RI.