Mitos ini berkembang di daerah Jawa Timur. Namun, faktanya tanpa keberadaan kembar mayang pun pengantin tetap bisa hidup langgeng dan harmonis.
BACA JUGA:Mengungkap Fakta Mitos Seputar Serangan Jantung yang Perlu Diluruskan
BACA JUGA:Alasan Orang Sunda Melarang Menyapu Malam Hari, Bukan Sekadar Mitos!
Mitos lainnya yang juga beredar di beberapa wilayah Jawa adalah bunga kembar mayang yang layu di pernikahan adalah pertanda buruk bagi pernikahan kedua mempelai.
Faktanya, bunga yang dipakai untuk kembar mayang memang tidak awet. Bunga dapat layu sewaktu-waktu khususnya jika berada di suhu tinggi dan kering.
Terlepas dari mitos dan fakta tersebut, kembar mayang pengantin tetap menggambarkan betapa masyarakat Jawa memandang pernikahan sebagai sesuatu yang sakral.
Kembar mayang bukan hanya ornamen pernikahan, melainkan simbol kuat yang mencerminkan nilai-nilai luhur budaya Jawa: kesetiaan, keseimbangan, harapan, dan keselamatan. Meski ada mitos yang menyertainya, secara filosofis, kembar mayang merupakan doa visual untuk kelanggengan dan keharmonisan rumah tangga.
BACA JUGA:Mitos Naik Sepeda Motor Malam Hari, Penyebab Paru-paru Basah?
BACA JUGA:Fakta Medis di Balik Mitos Kerokan, Mengobati Masuk Angin?
Tradisi ini adalah bukti bahwa dalam setiap helai janur, ada warisan budaya yang menyampaikan pesan kebaikan bagi generasi mendatang.
Demikian informasi yang kami ulas mengenai makna di balik mitos kembar mayang dalam pernikahan. Semoga bermanfaat.