"Saya biasanya mulai mengerjakan sepulang sekolah, dan teman-teman saya ikut bantu juga. Jadi lebih seru dan cepat selesai," katanya.
BACA JUGA: Jenazah Bocah di Pemalang Disimpan 2,5 Bulan, Polda Jateng Turunkan Tim Khusus
BACA JUGA: Dua Bocah di Pemalang Tersambar Petir Saat Hendak Bermain Bola, Seorang Tewas Satu Kritis
Bowo menegaskan bahwa kegiatan membuat layang-layang ini hanyalah sebuah hobi, Ia mengaku belum terpikir untuk menjual layangan hasil buatannya, karena masih menikmati proses pembuatannya dan khawatir jika layang-layang yang dijual tidak bisa terbang dengan baik.
"Saya bikin layangan cuma buat hobi saja, tidak dijual. Soalnya takut kalau dijual nanti malah nggak bisa terbang," ujarnya sambil tersenyum.
Kisah Bowo menjadi bukti bahwa kreativitas anak-anak bisa tumbuh dari hal-hal sederhana, asalkan didukung oleh kemauan dan kerja keras. Di tengah era digital yang serba cepat, keberadaan anak seperti Bowo yang masih mencintai permainan tradisional layang-layang merupakan angin segar yang patut diapresiasi.