Asal Mula Mitos Suku Jawa Pantang Menikah dengan Suku Sunda, Berawal dari Peristiwa Lampau 2 Kerajaan

Rabu 20-03-2024,08:25 WIB
Reporter : Friska Indah Mauludiba
Editor : Khikmah Wati

RADAR TEGAL - Mitologi seputar suku Jawa pantang menikah dengan suku Sunda sudah ada dalam budaya Jawa sejak lama. Mitos ini diwariskan dari leluhur, hingga kini mitos tersebut masih diterapkan dan dipercaya oleh sejumlah masyarakat Jawa maupun Sunda.

 

Dalam buku  Etnologi Jawa yang ditulis oleh Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M. Hum menjelaskan, jika sepasang suami istri dari kedua suku tersebut menikah, pernikahan mereka akan diterjang oleh malapetaka, kesialan, dan hubungan yang tidak harmonis. Itulah mengapa mitos suku Jawa pantang menikah dengan suku Sunda masih ada dan dipercaya hingga sekarang.

 

Mitos suku Jawa pantang menikah dengan suku Sunda disebut-sebut memiliki akar dalam konflik sejarah antara kerajaan Jawa dan Sunda. Konflik ini lah yang mempengaruhi hubungan antara kedua suku tersebut.

 

Meneropong jauh ke masa lampau, sebenarnya apa yang terjadi hingga mitos suku Jawa pantang menikah dengan suku Sunda masih sangat melegenda? Jelajahi artikel untuk mengulik sejarah lampau dari mitologi ini.


BACA JUGA: 6 Mitos Jawa yang Terkenal, Nomor 5 Bisa Digondol Wewe Gombel, Ini di Balik Kisahnya!

 

Asal muasal mitologi suku Jawa pantang menikah dengan suku Sunda

 

Beberapa spekulasi mengatakan bahwa mitos ini berasal dari periode sejarah ketika terdapat konflik atau rivalitas antara kerajaan di Jawa dan Sunda.  Mitos suku Jawa pantang menikah dengan suku Sunda mungkin digunakan untuk memperkuat identitas budaya masing-masing suku dan mempertahankan batasan-batasan sosial yang ada. 

 

Dari sisi sejarah, konon terjadi karena perang bubat yang melibatkan Kerajaan Padjadjaran dari tanah Sunda dengan Kerajaan Majapahit dari tanah Jawa.  Peristiwa ini diawali dengan putri Kerajaan Sunda yakni Dyah Pitaloka yang dijodohkan dengan Hayam Wuruk. Raja Majapahit yakni Hayam Wuruk ini sangat berhasrat untuk menjadikan Dyah Pitaloka sebagai permaisurinya. 

 

Hayam Wuruk mengutus Patih Madhu untuk mendatangi Kerajaan Padjadjaran dengan maksud melamar Dyah Pitaloka dalam ikatan pernikahan kerajaan. Raja Sunda merestui perjodohan tersebut karena berpeluang mengikat persekutuan yang besar dengan Kerajaan Majapahit.

 

Kerajaan Padjadjaran menantikan jemputan dari pihak Kerajaan Majapahit serta upacara selayaknya pernikahan antar kerajaan. Di samping itu, Gajah Mada memandang pernikahan ini sebagai kesempatan untuk menaklukan Kerajaan Padjadjaran di bawah kuasa Majapahit.

 

BACA JUGA: 5 Mitos Jawa yang Menyeramkan dan Terkenal, Cek Fakta dan Kebenarannya di Sini

 

Dengan lantang Gajah Mada mengatakan bahwa sang Putri Kerajaan Galuh akan dipersembahkan kepada Raja Majapahit sebagai selir bukan untuk dijadikan Ratu Majapahit. Dyah Pitaloka yang dipersembahkan untuk Raja Majapahit sebagai selir sebagai tanda takluk Kerajaan Padjajaran di bawah kuasa Kerajaan Majapahit. Mendengar hal itu, Raja Padjadjaran murka dan merasa dipermalukan.

 

Dyah Pitaloka yang terjebak dalam kesedihan, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya demi menjaga kehormatan dan harga diri negaranya. Atas kematian Dyah Pitaloka, Hayam Wuruk, sang Raja Majapahit dan seluruh rakyat Sunda turut berduka kehilangan sosok keluarga kerajaan mereka.


Peristiwa lampau yang melibatkan dua kerajaan itulah yang memunculkan mitos 
suku Jawa pantang menikah dengan suku Jawa ada.

 

Mitos suku Jawa menikah dengan suku Sunda

 

1. Keretakan Rumah Tangga

 

Menurut beberapa spekulasi, pria Sunda akan gagal sebagai kepala rumah tangga. Faktanya, hal tersebut bisa saja tidak terjadi jika kedua pasangan ini menunjukkan sikap saling mencintai, pengertian, dan saling menghormati. 

 

BACA JUGA:10 Mitos Jawa yang Masih Kuat dan Dipercaya Kebenarannya hingga Sekarang, Simak Selengkapnya!

 

2. Perbedaan Budaya Jawa dan Sunda Mustahil untuk Bersatu

 

Anggapan ini tentu salah, selama pasangan suami istri menjalin komunikasi yang baik dan saling terbuka, mereka akan menemukan titik temu meskipun ada kesenjangan budaya.

 

3. Suku Jawa dan Sunda Mustahil Menganut Agama yang Sama

 

Nyatanya, di zaman sekarang banyak pasangan berbeda agama yang sukses dalam pernikahan mereka. Asalkan kedua pihak menghormati dan memahami agama maupun budaya satu sama lain.

 

Perpaduan budaya itulah yang menjadi bukti bahwa pernikahan antar suku bisa terjalin dengan bahagia dan rukun. Artinya, mitos suku Jawa pantang menikah dengan suku Sunda tidak benar adanya.

 

Kesimpulan

 

Pentingnya sikap saling menghormati dan memahami kepercayaan dan budaya masing-masing dapat memberikan landasan yang kokoh agar sukses dalam pernikahan yang langgeng.

 

Itulah tadi kisah lampau dan mitos suku Jawa pantang menikah dengan suku Sunda. Semoga informasi ini bermanfaat.  (*)

Kategori :