Putranya Meninggal Secara Tragis di Pondok Pesantren Gontor 1, Soimah: Menyakitkan Hati Saya

Senin 05-09-2022,15:51 WIB
Reporter : Khikmah Wati
Editor : Khikmah Wati

JAKARTA, radartegal.com - Putranya meninggal dunia di Gontor 1 pada Senin, 22 Agustus 2022 pukul 06.45 WIB, Soimah tidak kuasa menahan tangisnya saat bertemu Hotman Paris Hutapea.

Menurutnya, jenazah Albar Mahdi, putranya yang merupakan santri Gontor 1 tewas di pesantren diduga akibat kekerasan.

Menurut Soimah, jenazah putranya tiba di Palembang pada Selasa siang, 23 Agustus 2022 diantar oleh pihak Gontor 1 dipimpin ustaz Agus.

"Itupun saya tidak tahu siapa ustad Agus itu hanya sebagai perwakilan. Di hadapan pelayat yang memenuhi rumah saya disampaikan kronologi bahwa anak saya terjatuh akibat kelelahan mengikuti Perkemahan Kamis Jumat (Perkajum). Apalagi anak saya dipercaya sebagai ketua Perkajum, mungkin alasan itu bisa kami terima bila sesuai dengan kenyataan kondisi mayat anak saya," terang Soimah.

Wali santri Pondok Modern Darussalam Gontor 1, Ponorogo, Jawa Timur ini pun memohon keadilan atas kejadian tragis yang dialami putranya.

Nahasnya keluarga di Palembang baru mendapat kabar dari pengasuh pesantren beberapa jam setelah anaknya meninggal dunia.

"Saya selaku Umi dari Albar Mahdi, siswa kelas 5i Pondok Modern Darussalam Gontor 1 Pusat Ponorogo asal Palembang mohon keadilan kepada semua pihak agar bisa membantu saya, sungguh miris, tragis dan menyakitkan hati saya dan keluarga tidak ada kabar sakit atau apapun itu dari anak saya tiba-tiba dapat kabar dari pengasuhan Gontor 1 telah meninggal dunia pada Senin, 22 Agustus 2022 pukul 10.20 padahal di surat keterangan yang kami terima meninggal pukul 06.45 WIB, ada apa!" tulis Soimah di akun Instagramnya @soimah_didi, dikutip pada Senin, 5 September 2022.

Dari rentang waktu meninggal hingga keluarga dikabari pihak pesantren itu menjadi pertanyaan keluarga. Karena mendengar berita itu keluarga pun kaget bukan main dan tidak bisa berpikir apa-apa.

"Yang kami harap adalah kedatangan ananda ke Palembang meskipun hanya tinggal mayat," ungkapnya.

Banyak laporan-laporan dari wali santri lainnya bahwa kronologi bukan terjatuh. Pihak keluarga meminta agar mayat dibuka. 

Amarah keluarga seketika tidak terbendung kenapa laporan yang disampaikan berbeda dengan kenyataan yang diterima.

Karena tidak sesuai, keluarga pun menghubungi pihak forensik dan pihak rumah sakit sudah siap melakukan otopsi. Namun, setelah didesak pihak dari Gontor 1 yang mengantar jenazah akhirnya mengakui bahwa anaknya meninggal akibat terjadi kekerasan.

"Sungguh sebagai ibu, saya tidak kuat melihat kondisi mayat anak saya demikian begitu juga dengan keluarga. Saya pun tidak bisa membendung rasa penyesalan saya telah menitipkan anak saya di sebuah pondok pesantren yang notabene nomor satu di Indonesia," kata Soimah.

Kecurigaan lainnya kembali diungkap Soimah. Ia menerangkan jasad putranya saat dikafani terus mengucurkan darah. Bahkan kain kafannya harus beberapa kali diganti karena darah dari kepalanya terus mengucur.

"Diduga tindak kekerasan penganiayaan. Kafannya sampai dua kali ganti karena penuh darah. Anak saya umur 17 tahun," ungkap ibu paruh baya tersebut berurai air mata. 

Kategori :