Belum Lama Dibangun, Atap Bangunan Museum Purbakala Situs Buton di Tonjong Ambruk

Belum Lama Dibangun, Atap Bangunan Museum Purbakala Situs Buton di Tonjong Ambruk

Komponen atap bagian teras gedung Museum Purbakala Situs Buton (Bumiayu-Tonjong) di Dukuh Kalipucung Desa Galuhtimur Kecamatan Tonjong, ambruk.

Padahal, bangunan yang menelan anggaran sebesar Rp572,405 juta tersebut, belum lama diselesaikan pembangunannya. Yakni pada Desember tahun lalu. 

Sekretaris Desa Galuhtimur Muhajir membenarkan kondisi tersebut. Menurut dia, ambruknya komponen atap bangunan museum itu terjadi pada Lebaran kemarin. 

"Iya, bagian atap teras ambruk. Kejadiannya sehari setelah Lebaran," ungkapnya Kamis (12/5). 

Dijelaskannya, masih tingginya intensitas hujan beberapa waktu terakhir hingga menjelang Idul Fitri diduga menjadi penyebab ambruknya atap museum tersebut. 

"Kejadian itu sudah kami laporkan ke Dinas Pariwisata Kabupaten Brebes," kata Muhajir. 

Seperti diketahui, bangunan museum tersebut berbentuk oval berukuran 15 x 15 meter ini, sedianya akan menjadi kebanggaan masayarakat Kabupaten Brebes. 

Museum ini akan dijadikan sebagai tempat penyimpanan penemuan fosil manusia purba (homo erectus bumiayuensis) berumur 1,8 juta tahun di Situs Bumiayu. 

"Selain itu juga menyimpan fosil-fosil purbakala lain yang ditemukan di wilayah Bumiayu dan Tonjong," imbuhnya. 

Pemkab Brebes melalui Gubernur Jateng sedang mengusulkan Situs Buton ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjadi geopark. 

Hal ini sebagai upaya pelestarian terhadap warisan geologi, pusat pendidikan, sekaligus untuk tempat wisata, sehingga memberikan peluang kesejahteraan ekonomi bagi warga setempat dan sekitarnya serta sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). 

"Belum sempat ditempati, padahal informasinya sudah selesai 100 persen. Tapi keburu rusak, sehingga cukup disesalkan," ungkap Wahidin, warga sekitar. 

Dikatakan, lokasinya berada di pinggiran Desa Galuhtimur menjadikan keberadaannya kurang mendapat perhatian dan saat kejadian tidak ada yang tahu secara pasti. 

"Warga mengetahui setelah komponen atap dalam kondisi menggantung seperti itu, lalu disampaikan ke perangkat Desa," pungkasnya. (pri/ima)

Sumber: