Diduga jadi Korban Pelecehan di Lingkungan Ponpes, Santriwati di Bogor Alami Hal Ini

Diduga jadi Korban Pelecehan di Lingkungan Ponpes, Santriwati di Bogor Alami Hal Ini

Setelah terbangun, SZA dibuat kaget karena ada seseorang yang berdiri di depannya lalu menepis lengan orang tersebut.

Belum sempat berteriak, SZA melihat orang tersebut berjalan mundur sambil mengangkat sarungnya yang terlihat jelas kemaluannya, karena tidak menggunakan celana dalam.

“Sepintas anak saya melihat ciri-ciri orangnya itu rambutnya dikuncir di bagian atas, memakai kaos hitam dengan tulisan di bagian belakang dengan warna hitam dan putih serta memakai sarung warna hijau kotak-kotak,” ucapnya.

Setelah orang tersebut berlari keluar meninggalkan kamarnya, SZA mencoba membenarkan baju yang dikenakannya. Sungguh tidak disangka, kancing baju yang dikenakannya sudah terbuka hingga bagian perut.

Disitu, SZA tidak berani untuk melanjutkan tidurnya. Dia hanya bisa menangis sambil menunggu teman-temannya terbangun.

“Jam setengah 4 teman-temannya udah ada yang mulai bangun dan di situ karena merasa udah aman anak saya sempat tertidur sebentar,” imbuh dia.

Tidak lama, dilanjutkan Parlindungan, anaknya dibangunkan rekan sekamarnya dengan tujuan mengajak salat Subuh bersama. Dari situlah, ia bercerita kepada rekannya atas kejadian yang dialaminya tersebut.

“Beberapa temannya juga ada yang mengaku melihat dan mendengar ada seseorang yang masuk lingkungan kamar santriwati,” ungkap dia.

“Bahkan jendela kamar ada yang terbuka, lemari santriwati berantakan, ada jejaki kaki di luar bahkan ada yang kehilangan uang dan makanan,” sambungnya.

Kemudian, dikatakan Parlindungan, para santriwati ini melaporkan kejadian yang dialaminya kepada salah satu pengajar yang ada di ponpes tersebut.

“Setelah melapor anak saya dan teman-temannya dipanggil untuk dimintai keterangan. Setelah itu, mereka kembali beraktivitas dengan rasa was-was,” bebernya.

Namun bukannya mendapatkan ketenangan, disambung Parlindungan, selang beberapa hari ada pengumuman dari pihak Ponpes yang meminta para santriwati, khususnya kelas 7 agar tidak menceritakan kejadian dugaan pelecehan seksual tersebut kepada orangtuanya masing-masing.

Dengan alasan, persoalan ini tengah diurus pihak ponpes dan agar tidak menjadi panik bagi santriwati lainnya.

Berdasarkan cerita itu, Parlindungan mengaku langsung meminta bertemu dengan pimpinan ponpes untuk membicarakan kejadian yang dialami anaknya tersebut.

“Sekitar tanggal 14 November akhirnya kami bertemu dengan salah satu pimpinan ponpes untuk mengadukan kejadian yang dialami anak kami. Kemudian disarankan untuk datang kembali tanggal 19 November untuk bertemu pimpinan ponpesnya,” kata dia.

Sumber: