Daur Ulang Baterai EV: Ke Mana Perginya Setelah Mobil Pensiun?

Daur Ulang Baterai EV: Ke Mana Perginya Setelah Mobil Pensiun?

Daur ulang baterai EV menjadi bagian penting ekosistem kendaraan listrik di Indonesia--

JAKARTA, radartegal.com - daur ulang baterai EV menjadi tantangan baru seiring populasi kendaraan listrik meningkat. Baterai bekas tidak boleh diperlakukan seperti sampah elektronik biasa.

Ketika performanya menurun, baterai belum tentu langsung menjadi limbah akhir. Ada peluang penggunaan kedua sebelum materialnya diproses kembali.

Indonesia bahkan sudah memiliki dasar aturan untuk penanganannya. Namun, kesiapan ekosistem pengumpulan dan pengolahan masih menjadi pekerjaan besar.

Mengapa Limbah Baterai EV Mulai Menjadi Tantangan Baru?

Jumlah kendaraan listrik terus bertambah di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pertumbuhan tersebut otomatis akan menghasilkan baterai bekas pada masa mendatang.

BACA JUGA: Kenapa Mobil Listrik Tidak Pakai Gigi Transmisi seperti Mobil Bensin?

BACA JUGA: 7 Alasan Teknisnya Kenapa Ban Mobil Listrik Cepat Botak

Baterai memiliki material bernilai sekaligus membutuhkan penanganan khusus. Karena itu, akhir masa pakai kendaraan perlu direncanakan sejak awal.

IEA memperkirakan sekitar 1,2 juta baterai EV mencapai akhir masa pakai pada 2030. Angkanya berpotensi meningkat menjadi sekitar 14 juta baterai pada 2040.

Bagaimana Nasib Baterai Bekas Mobil Listrik?

1. Baterai Bekas Tidak Selalu Langsung Masuk Mesin Daur Ulang

Penurunan performa tidak otomatis membuat baterai langsung tidak berguna. Sebagian baterai masih dapat digunakan untuk kebutuhan dengan tuntutan lebih rendah.

Konsep tersebut dikenal sebagai penggunaan kedua atau second life. Baterai kendaraan dapat dialihkan untuk aplikasi penyimpanan energi tertentu.

BACA JUGA: Indonesia vs Thailand, Siapa Raja Mobil Listrik ASEAN 2026?

BACA JUGA: Mobil Listrik yang Diproduksi di Indonesia, Ini Daftar dan Keunggulannya

Kelayakannya tetap harus diperiksa sebelum baterai digunakan kembali. Kondisi sel, kapasitas tersisa, keselamatan, dan biaya menjadi pertimbangannya.

Secara ringkas, terdapat empat kemungkinan setelah baterai kendaraan pensiun:

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: