Hasil Panen Padi Tegal Melonjak! Metode Pertanian Modern PM-AAS Tembus 12 Ton per Hektar

Kamis 29-10-2026,10:00 WIB
Reporter : Hermas Purwadi
Editor : Adi Mulyadi

Sistem ini menggabungkan benih unggul, pola tanam rapat presisi, pengelolaan populasi tanaman, mekanisasi pertanian, efisiensi irigasi, serta pendampingan teknis secara berkelanjutan.

Menurut Abdul Syakur, pendekatan ini berfokus pada optimalisasi proses fotosintesis dan peningkatan populasi tanaman di areal sawah.

BACA JUGA:Agriculture Run 2026 di Kabupaten Tegal, Dobrak Stigma Negatif Pertanian

BACA JUGA:Sektor Pertanian Tulang Punggung Ekonomi Jateng, Gubernur Minta Organisasi Lakukan Ini

"Pendekatan ini menempatkan optimalisasi fotosintesis, peningkatan populasi tanaman, dan pertanian presisi sebagai kunci peningkatan hasil panen. Melalui sistem ini, penggunaan input produksi seperti pupuk dan air diharapkan lebih efisien, sementara populasi tanaman dapat ditingkatkan secara optimal," jelasnya.

Potensi Hasil Panen Tembus 12 Ton per Hektar

Berdasarkan uji coba dan evaluasi di lapangan, skema PM-AAS menunjukkan lonjakan hasil panen yang sangat signifikan dibandingkan metode konvensional.

Metode baru ini berpotensi meningkatkan produktivitas padi hingga rata-rata 10 ton gabah per hektar. Bahkan, pada beberapa titik lokasi, hasil panen mampu menembus angka lebih dari 12 ton per hektar.

Keberhasilan proyek percontohan ini memiliki nilai strategis dalam menjaga stabilitas pasokan pangan daerah maupun nasional.

BACA JUGA:Audiensi Warga Balaradin dengan Kapolres Tegal: Bahas Soal Dana Desa

BACA JUGA:TKAD SD Kabupaten Tegal 2026: Uji Kemampuan Siswa Lewat Asesmen Digital Hadapi TKA Nasional

Replikasi Model Pertanian Modern di Lahan Irigasi

Dinas KP Tan Kabupaten Tegal memberikan apresiasi tinggi atas pendampingan penuh dari BRMP Jawa Tengah selama proses perakitan kawasan pertanian modern.

Ke depan, pola budidaya presisi ini dirancang untuk direplikasi ke berbagai kawasan produksi padi lainnya di Kabupaten Tegal, terutama pada lahan sawah beririgasi teknis yang memiliki potensi produktivitas tinggi.

"Keberhasilan piloting ini memiliki makna strategis, di mana padi tetap menjadi komoditas utama dalam menopang ketahanan pangan daerah dan nasional. Oleh karena itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian sangat mengapresiasi dukungan BRMP Jawa Tengah," pungkas Syakur.

 

Tags :
Kategori :

Terkait