radartegal.com – Rafa Fidianto sempat gagal masuk sekolah negeri karena nilainya belum memenuhi syarat. Namun, kegagalan itu tidak menghentikan langkah anak seorang pengemudi ojek online tersebut untuk melanjutkan pendidikan.
Pada tahun ajaran 2026/2027, Rafa diterima di SMA Laboratorium UPGRIS, Kota Semarang, melalui Program Sekolah Kemitraan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Melalui program itu, ia dapat melanjutkan pendidikan tanpa dibebani biaya sekolah.
“Sebetulnya saya sempat mendaftar ke sekolah negeri, tetapi nilainya tidak cukup. Saya senang bisa sekolah di sini karena bisa mendapat banyak teman,” kata Rafa saat ditemui pada 13 Juli 2026.
Kisah Rafa menjadi salah satu gambaran upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam memperluas akses pendidikan, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
BACA JUGA: Bakar Semangat Kontingen Jateng di Jamnas XII, Ini Pesan Gubernur Ahmad Luthfi
BACA JUGA: Penanganan Sampah di Jateng Butuh Aksi Bersama Seluruh Elemen
Menjelang Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah, pemerintah daerah terus mengembangkan berbagai jalur pendidikan, mulai dari sekolah negeri, sekolah kemitraan dengan sekolah swasta, sekolah khusus bagi atlet, hingga program pendidikan di luar negeri.
Kapasitas Sekolah Negeri dan Sekolah Kemitraan Diperluas
Pada tahun ajaran 2026/2027, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyediakan 231.724 kursi di SMA, SMK, dan SLB negeri. Jumlah tersebut setara sekitar 40,83 persen dari perkiraan lulusan SMP sederajat di Jawa Tengah.
Siswa di sekolah negeri dibebaskan dari sejumlah biaya operasional, termasuk SPP dan iuran wajib. Dukungan juga mencakup paket buku pelajaran serta kegiatan akademik dan ekstrakurikuler tertentu.
Namun, kapasitas sekolah negeri belum mampu menampung seluruh lulusan SMP sederajat. Karena itu, Pemprov Jateng menggandeng 139 sekolah swasta yang terdiri atas 56 SMA dan 83 SMK melalui Program Sekolah Kemitraan.
BACA JUGA: Lahan Tidur Belasan Tahun Disulap Jadi Area Farming Produktif Lewat Program Revola Jateng
BACA JUGA: Heboh Kasus Perundungan di Pati dan Pemalang, Ini Strategi Pemprov Jateng untuk Cegah Bullying
Program tersebut menyasar calon murid dari keluarga kurang mampu kategori Desil 1 hingga Desil 4 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN. Sekolah yang menjadi mitra tidak diperbolehkan menarik biaya pendidikan dari peserta program.
Pada tahun ajaran 2026/2027, sebanyak 3.676 siswa diterima melalui Program Sekolah Kemitraan. Jumlah itu terdiri atas 1.036 siswa SMA dan 2.640 siswa SMK.