Penduduk Miskin Jateng Berkurang 59 Ribu Jiwa

Kamis 06-08-2026,08:37 WIB
Reporter : Adi Mulyadi
Editor : Adi Mulyadi

SEMARANG, radartegal.com - Tren kemiskinan di Jawa Tengah terus menunjukkan grafik penurunan signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah warga miskin di wilayah ini menyusut hingga puluhan ribu jiwa pada periode Maret 2026.

Pengurangan angka kemiskinan tersebut beriringan dengan tren pertumbuhan ekonomi daerah yang mencatatkan performa positif. Laju perekonomian Jateng bahkan sanggup melampaui capaian rata-rata nasional pada triwulan kedua tahun ini.

Penurunan Populasi dan Persentase Penduduk Miskin Jateng

BPS Jawa Tengah mencatat populasi warga miskin pada Maret 2026 tersisa 3,29 juta orang atau sekitar 9,21 persen dari total populasi. Angka ini berkurang 59.390 jiwa dibandingkan data September 2025.

Jika ditarik perbandingan secara tahunan dari Maret 2025, terjadi penurunan sebanyak 81.250 jiwa. Secara persentase, angka 9,21 persen tersebut membaik dibanding posisi September 2025 (9,39 persen) dan Maret 2025 (9,48 persen).

BACA JUGA:DPRD Kota Tegal Desak Evaluasi Data Kemiskinan

BACA JUGA:Gus Yasin Kawal KKN UIN Saizu untuk Data Kemiskinan Jateng

Tolok Ukur dan Standar Garis Kemiskinan BPS

Pengukuran indikator ekonomi ini mengacu pada metodologi pemenuhan kebutuhan dasar atau basic need approach. Pendekatan tersebut menilai kemampuan finansial individu maupun rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pokok makanan dan non-makanan.

Dari kalkulasi tersebut, standar Garis Kemiskinan Jateng berada pada rentang angka:

  • Per Kapita: Rp596.676 per bulan.
  • Per Rumah Tangga Miskin: Rp2.571.674 per bulan (rata-rata).

"Berdasarkan garis kemiskinan tersebut, pada Maret 2026 terdapat sebanyak 3,29 juta penduduk miskin di Jawa Tengah. Dibandingkan September 2025 jumlah penduduk miskin turun 59.390 orang dan dibandingkan Maret 2025 turun 81.250 orang," jelas Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said, dalam rilis resminya, Rabu (5/8/2026).

Komoditas Utama Penyumbang Garis Kemiskinan

Komoditas pangan masih mendominasi pembentukan batas garis kemiskinan, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Beras dan rokok kretek filter memegang porsi kontribusi terbesar di kedua area tersebut.

BACA JUGA:Ketua DPRD Jateng Sumanto Dorong Anggaran Beri Dampak ke Pengentasan Kemiskinan

BACA JUGA:Sampaikan LKPJ TA 2025, Gubernur Jateng Klaim Kemiskinan dan Penganguran Turun

Berikut adalah deretan komoditas pemicu beban pengeluaran masyarakat:

  1. Perkotaan (Makanan): Beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, roti, kue basah, tempe, mi instan, bawang merah, dan gula pasir.
  2. Perkotaan (Non-Makanan): Sektor perumahan.
  3. Perdesaan (Makanan): Beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, kopi bubuk/instan, bawang merah, tempe, roti, tahu, dan gula pasir.

Disparitas Perkotaan dan Perdesaan

Secara geografi, persentase penduduk miskin kawasan perkotaan relatif lebih rendah disbanding wilayah desa. Pada Maret 2026, tingkat kemiskinan kota berada di angka 8,59 persen, sementara perdesaan menyentuh 9,96 persen.

Tingkat ketimpangan juga terlihat pada indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan:

  • Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1): Tercatat sebesar 1,515. Kawasan perkotaan membaik dari 1,532 menjadi 1,312, namun perdesaan naik dari 1,478 menjadi 1,758.
  • Indeks Keparahan Kemiskinan (P2): Secara umum membaik dari 0,338 (September 2025) menjadi 0,333 (Maret 2026). Perkotaan melandai dari 0,364 ke 0,275, sedangkan perdesaan meningkat dari 0,306 ke 0,402.

Pertumbuhan Ekonomi Jateng Melampaui Rata-Rata Nasional

Kategori :