Dandy menjelaskan, sekitar 70 persen anggaran MBG digunakan untuk pembelian bahan pangan. Sehingga berdampak langsung pada penggerakan ekonomi lokal, mengingat belanja bahan pangan tersebut kembali kepada masyarakat, termasuk petani, nelayan, dan pelaku UMKM.
BACA JUGA:Sikapi Penurunan Dana Transfer, Ketua DPRD Jateng Minta Pemprov Lebih Mandiri dan Kreatif Gali PAD
BACA JUGA:Tinjau Langsung Distribusi LPG di Karanganyar, Gubernur Jateng Pastikan Pasokan Aman
Dandy juga menyoroti dukungan infrastruktur di Jawa Tengah yang dinilai kuat. Lebih dari 8.500 koperasi desa dan kelurahan Merah Putih telah terbentuk, dan sekitar 6.200 di antaranya sudah operasional.
Ekosistem ini dinilai dapat memperkuat konektivitas antara produksi pangan dan kebutuhan SPPG.
Sektor Prikanan Fokus Utama
Dalam penguatan rantai pasok, sektor perikanan menjadi fokus utama, karena memiliki potensi besar, baik dari perikanan tangkap maupun budidaya.
Komoditas seperti lele, nila, patin, tongkol, dan tuna, dinilai sebagai sumber protein yang terjangkau dan melimpah. Pemerintah mendorong agar ikan tidak hanya menjadi menu pelengkap, tetapi menjadi menu utama dalam program MBG.
BACA JUGA:Suspek Kasus Campak di Jateng Capai 2.188, Pemprov Galakkan Imunisasi dan Deteksi Dini
BACA JUGA:DPRD Jateng Percepat Raperda Standarisasi Jalan & Garis Sempadan untuk Cegah Banjir
Dia menuturkan penguatan juga dilakukan melalui pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih yang telah siap infrastruktur di beberapa daerah Jawa Tengah. Di antaranya Jepara, Pati, Kebumen, dan Purworejo.
Secara nasional, pemerintah telah membangun 65 kampung nelayan, dan menargetkan tambahan 35 lokasi, sehingga totalnya mencapai sekitar 1.300 kampung nelayan di seluruh Indonesia.
“Selain itu, pengembangan budidaya melalui bioflok tematik juga telah dilakukan di sejumlah wilayah, seperti Batang, Kendal, Magelang, Kabupaten Semarang, dan Boyolali. Langkah ini memperlihatkan Jawa Tengah memiliki kekuatan hulu yang lengkap, untuk mendukung kebutuhan bahan baku program MBG,” tegasnya.
UMKM Sambut Positif Penguatan Kemitraan
Di sisi lain, pelaku UMKM menyambut positif penguatan kemitraan tersebut. Pemilik usaha olahan ikan nila asal Banyumas, Sri Narsih, mengatakan produknya mulai dilirik untuk memenuhi kebutuhan menu SPPG.
BACA JUGA:Selain WFH, Ini Skema Transformasi Budaya Kerja ASN Pemprov Jateng
BACA JUGA:Ketua DPRD Jateng Sumanto Dapat Gelar Satriyo Pelestari Budaya Ringgit Purwo Gegara Ini
Olahan nila crispy yang diproduksinya menjadi alternatif sumber protein hewani yang praktis dan tahan lama, sehingga cocok untuk distribusi dalam skala besar.