Hadirkan Pakar dari Harvard, Universitas Harkat Negeri dan CISDI Bahas Penguatan Nakes Profesional

Kamis 05-02-2026,19:00 WIB
Reporter : Teguh Mujiarto
Editor : Teguh Mujiarto

Menurut Diah, kolaborasi itu, memiliki nilai strategis sebagai center of excellence Primary Health Care (layanan kesehatan primer) yang berangkat dari konteks Indonesia. Sekaligus menjadi ruang pembelajaran, inovasi, dan kolaborasi lintas aktor.

“Melalui pusat pembelajaran dan impact hub yang berpusat di Tegal ini, praktik baik dan pengetahuan yang dikembangkan di Indonesia diharapkan dapat memperkuat sistem kesehatan nasional. Serta berkontribusi terhadap penguatan layanan kesehatan primer di tingkat regional dan global,” ujar Diah.

Diah mengatakan layanan kesehatan primer, yang biasanya dikenal melalui puskesmas dan posyandu, merupakan sistem yang memenuhi kebutuhan kesehatan individu. Serta keluarga di tingkat komunitas dan masyarakat dari hulu ke hilir.

BACA JUGA: Universitas Harkat Negeri Dorong Peningkatan IPM Pemalang melalui Beasiswa

BACA JUGA: Universitas Harkat Negeri Luncurkan Beasiswa bagi Siswa di Pantura, Segera Daftar Disini!

Layanan kesehatan primer menjadi kontak pertama masyarakat dengan layanan kesehatan berkualitas sehingga harus terjangkau dari sisi lokasi, akses, biaya, dan informasi.

Naiknya Biaya Kesehatan

Dalam sesi kuliah umumnya, pengajar Harvard Medical School, David B. Duong, MD, MPH, memaparkan untuk bisa menyiapkan tenaga kesehatan yang berorientasi pada pembangunan manusia. Dibutuhkan pendidikan berbasis kompetensi (Competency-Based Education).

“Karena melalui pendidikan berbasis kompetensi ini bisa menghasilkan tenaga kesehatan yang mampu praktik secara kompeten. Sesuai kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat,” kata Duong yang juga Director Program in Global Primary Health Care, Co-Chair Lancet Global Health Commission on People-Centered Care for UHC, Harvard Medical School.

Duong menuturkan, pendidikan berbasis kompetensi menekankan pada bukan hanya sekedar waktu lulus, namun juga hasil lulusan (outcomes). Kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan pasien dan masyarakat, serta fleksibilitas, akuntabilitas, dan pembelajaran seumur hidup. 

BACA JUGA: 736 Mahasiswa dari Tegal hingga Papua Ikuti PKKMB Universitas Harkat Negeri

BACA JUGA: Tren “Yo Beter” Ramai di Bregaslang, Ternyata dari Universitas Harkat Negeri Tegal

Menurut dia, pendidikan berbasis kompetensi mampu menjawab beberapa tantangan pembangunan kesehatan. Seperti ketimpangan layanan kesehatan berkualitas yang terkonsentrasi di wilayah tertentu dan fragmentasi disiplin ilmu lintas sektor alias melihat isu kesehatan hanya dari satu aspek saja.

Menurut Duong, tenaga kesehatan profesional yang berbasis kompetensi merupakan salah satu penguat pilar dari layanan kesehatan primer. Ia mengatakan ada lima pilar utama layanan kesehatan primer.

Yaitu, right diagnosis & treatment (diagnosis dan terapi yang tepat), right time (deteksi dan penanganan tepat waktu), right place (akses di fasilitas dan tingkat layanan yang sesuai). Selanjutnya, right provider (tenaga dan tim layanan primer yang kompeten), right experience (pengalaman pasien yang aman, nyaman, dan jelas).

Duong menekankan pentingnya memperbaiki model pendidikan tenaga kesehatan dan perawatan yang ada saat ini. Sebab, populasi penduduk lansia di dunia akan meningkat cukup pesat dalam beberapa tahun mendatang. 

BACA JUGA: Gita Wirjawan Ajak Mahasiswa Universitas Harkat Negeri Siap Hadapi 2045: Kita Kurang Piawai

Kategori :