BREBES, radartegal.com – Seorang pria lanjut usia (lansia) dikabarkan meninggal dunia saat berendam di kolam air panas Objek Wisata (OW) Cipanas, Desa Kedungoleng, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Selasa 15 April 2025.
Diketahui, korban berinisial S (80) warga Kecamatan Paguyangan. korban datang ke lokasi kejadian sekitar pukul 08.00 WIB untuk menjalani terapi air panas, seperti yang biasa ia lakukan setiap minggu.
Koordinator DTW Cipanas Tirta Husada Paguyangan. Dinas Pariwisata Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes, Nanang Qosim kepada media mengatakan bahwa korban merupakan pelanggan tetap yang rutin datang ke kolam air panas tersebut.
“Beliau sering terapi di Cipanas, hampir seminggu dua sampai tiga kali datang,” ujarnya.
BACA JUGA: Longsor di Brebes, Satu Lansia Dikabarkan Hilang
BACA JUGA: Positif Covid-19, Lansia di Brebes Pengidap Hipertensi Dilaporkan Meninggal Dunia
Biasanya, korban datang ditemani oleh anaknya. Namun pada hari kejadian, korban datang bersama cucunya yang menunggu di luar area kolam. "Kali ini beliau datang dengan cucunya. Saat kejadian, cucunya sedang di luar lokasi kolam,” lanjutnya.
Kurang lebih 30 menit setelah berendam, korban ditemukan dalam posisi telungkup. Petugas jaga bernama Sudarso segera memberikan pertolongan dan membawa korban ke pinggir kolam.
Setelah itu, korban dibawa ke ruangan pertolongan awal. Tak lama kemudian, ia dilarikan ke Puskesmas Paguyangan dengan mobil patroli milik Polsek setempat. “Waktu dibawa ke Puskesmas, beliau masih dalam keadaan pingsan,” jelasny.
Namun setelah diperiksa oleh dokter jaga, korban dinyatakan telah meninggal dunia. Menurut keterangan medis, korban mengeluarkan air dari mulut dan hidung, diduga karena air masuk ke saluran pernapasan.
BACA JUGA: Dua Hari Hilang, Lansia di Brebes Ditemukan di Dasar Tebing dalam Kondisi Begini
BACA JUGA: Geger! Pria Lansia di Brebes Ditemukan Meninggal Dunia dalam Kondisi Terkunci di Rumahnya
Dokter dari Puskesmas Paguyangan, dr. Amelia, memastikan tidak ada tanda kekerasan pada tubuh korban. Dirinya juga menyebut korban memiliki riwayat penyakit jantung.
Jenazah kemudian dibawa pulang oleh pihak keluarga untuk disucikan dan dimakamkan. Keluarga menolak dilakukan autopsi karena menganggap peristiwa ini sebagai musibah.