Ringkasan Cepat:
- Ratusan nelayan tradisional di Kabupaten Tegal menyuarakan krisis fasilitas tambatan perahu, kelangkaan akses solar, hingga masalah serius pendangkalan muara sungai. Melalui forum Rembuk Agraria Pesisir, mereka menuntut realisasi pembangunan pelabuhan serta normalisasi muara demi keberlanjutan mata pencaharian mereka.
SURADADI, radartegal.com - Ratusan nelayan kecil bersama masyarakat pesisir Kabupaten Tegal kembali menumpahkan tumpukan persoalan yang selama ini melumpuhkan aktivitas melaut mereka.
Krisis tempat berlabuh, janji pelabuhan yang tak kunjung terwujud, ketidakpastian pasokan BBM solar, hingga muara sungai yang kian dangkal kini menuntut tindakan nyata pemerintah.
Seluruh desakan tersebut mengemuka dalam agenda Rembuk Agraria Pesisir yang diinisiasi Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Jawa Tengah di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Suradadi, Kamis (5/11/2026).
Krisis Tambatan Perahu dan Pelabuhan yang Menggantung
Keterbatasan sarana fisik menjadi pukulan utama bagi nelayan tradisional di kawasan pesisir Suradadi dan sekitarnya.
BACA JUGA:Proyek Kampung Nelayan Merah Putih Suradadi Tegal Disorot, Muara Dangkal Ancam Aktivitas Nelayan
BACA JUGA:Ratusan Ton BBM Solar Ilegal Disita di Semarang, Siap Dibagi Gratis ke Nelayan Jawa Tengah
Eko Setiono (55), nelayan asal Desa Bojongsana, membeberkan sulitnya mendapatkan lokasi berlabuh yang memadai untuk armada perahu kayu mereka.
Ia menegaskan bahwa fasilitas penambatan perahu di wilayahnya sudah sangat rapuh dan tidak sanggup menampung volume perahu milik warga lokal.
"Kami mohon perhatian untuk nelayan kecil. Ruang lingkupnya perlu ditata agar nelayan memiliki tempat yang layak untuk menambatkan perahu," tegas Eko di hadapan jajaran pejabat yang hadir.
Kondisi tersebut diperparah oleh mandeknya proyek strategis di pesisir Suradadi. Kepala Desa Purwahamba, Hasim, kembali mengungkit wacana pembangunan pelabuhan di TPI Suradadi yang tak kunjung direalisasikan.
BACA JUGA:Pendangkalan Kian Parah, Nelayan di Brebes Keruk Sungai Secara Swadaya
BACA JUGA:Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Batang: 2 Lokasi Masuk Konstruksi, 2 Masih Menunggu Pusat
Hasim menegaskan bahwa keberadaan pelabuhan bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan urat nadi penting untuk menggerakkan perekonomian nelayan setempat.
Ia meminta pemerintah daerah maupun pusat tidak membiarkan cetak biru proyek pelabuhan Suradadi terus menggantung tanpa kepastian.