Sementara itu, Bupati Magelang Grengseng Pamuji memaparkan bahwa wilayahnya memiliki delapan kecamatan yang ideal secara agroklimat untuk budidaya sapi perah, salah satunya Kecamatan Ngablak. Namun, kendala utama di lapangan terletak pada keterbatasan populasi dan kapasitas produksi.
Saat ini, dua wadah koperasi peternak di Magelang—Koperasi Sapto Argo dan Amarto—masing-masing baru mencatatkan produksi di bawah 2.000 liter per hari. Angka ini belum memenuhi kuota minimum pengiriman langsung ke Industri Pengolahan Susu (IPS).
BACA JUGA: Sapi Kurban Jumbo 1,3 Ton Tumbang, Jagal Profesional Banyumas Beraksi di Adiwerna Tegal
BACA JUGA: Ikatan Terlepas, Sapi Kurban di Pemalang Kecemplung Sungai Krasak, Evakuasi Berlangsung Dramatis
"Peternak masih bergantung pada perantara dalam memasarkan susu, yang berdampak pada harga jual. Kami berharap pengembangan sapi perah di Magelang dibarengi pembenahan manajemen koperasi serta penguatan kemitraan langsung dengan IPS," ungkap Grengseng.
FAQ (Frequently Asked Questions):
Mengapa Kabupaten Magelang dikembangkan sebagai sentra sapi perah baru?
Magelang memiliki kondisi agroklimat yang sangat mendukung di 8 kecamatan serta diproyeksikan menopang target swasembada susu nasional bersama Boyolali dan Klaten.
Apa bentuk dukungan konkret Pemprov Jateng bagi peternak sapi perah?
Pemprov Jateng memfasilitasi pengembangbiakan serta menyediakan jaminan pengobatan dan pencegahan penyakit hewan melalui program *Healing* (Kesehatan Hewan Keliling).
Apa tantangan utama industri susu sapi perah di Kabupaten Magelang saat ini?
Tantangan utama meliputi terbatasnya populasi sapi perah dan kapasitas produksi dua koperasi lokal yang masih di bawah 2.000 liter/hari, sehingga peternak masih bergantung pada pihak ketiga (perantara).