BACA JUGA: Kenapa Mobil Listrik Tidak Pakai Gigi Transmisi seperti Mobil Bensin?
Efisiensi menjadi salah satu alasan kendaraan listrik menarik perhatian keluarga Indonesia. Penghematan sebenarnya tetap perlu dihitung berdasarkan kebiasaan pemakaian masing-masing.
Karena itu, konsumen Tegal perlu menghitung kebutuhan perjalanan sebelum membandingkan biaya energi. Pola perjalanan harian sangat menentukan seberapa besar manfaat kendaraan listrik.
3. Grip ban menjadi catatan ketika menghadapi tanjakan ekstrem
Kekurangan paling menonjol muncul ketika mobil menghadapi tanjakan dengan kondisi ekstrem. Pengguna menyebut ban bawaan beberapa kali kehilangan traksi pada situasi tersebut.
Menurut pengguna, daya cengkeram ban belum sepenuhnya sebanding dengan tenaga kendaraan. Ia bahkan berencana menggantinya menggunakan ban AT non-EV.
BACA JUGA: 7 Alasan Teknisnya Kenapa Ban Mobil Listrik Cepat Botak
BACA JUGA: Indonesia vs Thailand, Siapa Raja Mobil Listrik ASEAN 2026?
Catatan tersebut tidak berarti semua pengguna akan mengalami persoalan serupa. Kondisi permukaan jalan, tekanan ban, muatan, dan gaya berkendara turut memengaruhi traksi.
Secara ringkas, empat hal yang perlu diperhatikan terkait ban adalah:
1. Grip menjadi perhatian ketika kendaraan melewati tanjakan ekstrem.
2. Pengguna menilai daya cengkeram ban bawaan masih kurang.
3. Rencana penggantian ban diarahkan pada tipe AT non-EV.
4. Traksi dipengaruhi kondisi jalan, beban, tekanan, dan karakter ban.
Masalah traksi sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kelemahan mutlak kendaraan. Evaluasi harus mempertimbangkan kondisi ban dan karakter rute yang dilewati.
Bagi pengguna yang sering melintasi jalur pegunungan Jawa Tengah, aspek ini patut diperhatikan. Pemeriksaan tekanan dan kondisi tapak ban tetap menjadi langkah paling sederhana.
BACA JUGA: Mobil Listrik yang Diproduksi di Indonesia, Ini Daftar dan Keunggulannya