Dilema Petani Garam Rembang: Produksi Naik, Harga Terjun Bebas

Jumat 21-08-2026,05:30 WIB
Reporter : Adi Mulyadi
Editor : Adi Mulyadi

REMBANG, radartegal.com - Cuaca terik yang menyelimuti wilayah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, membawa dampak kontradiktif bagi para pembuat garam lokal. Di satu sisi, terik matahari yang konsisten berhasil memicu percepatan kristalisasi air laut sehingga mendongkrak hasil panen secara signifikan. Di sisi lain, fenomena melimpahnya stok komoditas ini justru memicu kemerosotan harga jual di tingkat produsen secara tajam.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Sami Teguh, salah seorang petambak garam yang beroperasi di Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem. Ia menjelaskan bahwa tidak hadirnya curah hujan sejak bulan Juni telah mengoptimalkan proses pematangan air laut di petakan tambak, sehingga masa pembuatan garam menjadi jauh lebih singkat dibanding kondisi normal.

"Kemarau tahun ini termasuk yang paling panjang. Dari bulan enam sampai sekarang belum ada hujan sama sekali. Kalau dari sisi produksi memang lebih bagus dan pembuatannya mudah karena air cepat tua dipanaskan," kata Sami ketika ditemui di area tambak miliknya, Kamis sore, 20 Agustus 2026.

Lonjakan Produksi Bikin Harga Terjun Bebas

Meskipun kuantitas produksi garam melonjak tinggi, nilai ekonomis komoditas tersebut di tingkat pasar lokal justru mengalami depresi mendalam. Situasi ini berbanding terbalik jika dibandingkan dengan dinamika panen pada periode tahun lalu, di mana tingkat harga masih tergolong menguntungkan bagi para pembuat garam.

BACA JUGA:Hari Jadi ke-81 Jateng, Gubernur Apresiasi Peran Petani, Buruh, hingga Pelaku UMKM

BACA JUGA:Waduk Mrica Banjarnegara Kritis, Sedimentasi 90 Persen Ancam Irigasi Petani

Sami mengungkapkan bahwa pada musim panen tahun lalu, harga jual garam sempat berada di level Rp1.700 per kilogram, dengan tingkat harga paling rendah berkisar Rp1.100 per kilogram. Kondisi tersebut tidak terulang pada musim panen kali ini, di mana grafik harga terus menunjukkan penurunan yang memprihatinkan sejak awal musim.

Pada pembukaan musim panen saat ini, harga sempat berada di kisaran Rp1.200 per kilogram sebelum akhirnya merosot secara konsisten hingga mencapai nilai Rp700 per kilogram. Bahkan, nilai transaksi terendah sempat menyentuh angka Rp650 per kilogram sebelum akhirnya merangkak naik secara perlahan.

"Biasanya kalau pembuatannya mudah, harganya memang jadi terlalu murah. Untuk lahan seluas ini, sekali panen sehari bisa dapat sekitar setengah ton (500 kg). Kalau harganya Rp700, pendapatan kasar hanya sekitar Rp350 ribu per panen, itu pun dipotong ke tengkulak atau makelar," ucapnya.

Beban Modal Tinggi dan Persoalan Penyaluran Bantuan

Tekanan ekonomi yang dialami para pembuat garam kian diperberat oleh tingginya biaya operasional harian serta pembelian sarana produksi. Salah satu komponen biaya terbesar yang wajib ditanggung petambak adalah pengadaan lembaran terpal geomembran sebagai alas kristalisasi garam.

BACA JUGA:Soroti Minimnya Regenerasi Petani, Ketua DPRD Jateng Ingatkan Risiko Jual Sawah Warisan

BACA JUGA:Petani Menjerit! Harga Garam di Brebes Anjlok, Sekarung Dihargai Rp40 Ribu

Untuk membiayai satu gulung terpal geomembran berukuran 4 x 50 meter—yang kapasitas pemakaiannya hanya cukup untuk satu petak area pembuatan garam (mejanan)—petambak harus mengalokasikan anggaran mencapai Rp2,8 juta.

Di tengah tingginya beban operasional tersebut, Sami juga menyoroti mekanisme pendistribusian bantuan sarana dan prasarana dari instansi pemerintah daerah. Bantuan berupa terpal, kereta dorong (angkong), hingga bibit ikan dinilai belum tersalurkan secara merata kepada para petambak penggarap langsung di lapangan.

"Bantuan dari Dinas Perikanan itu sebenarnya ada, tapi saya pribadi tidak pernah dapat. Cara survei di lapangannya seperti apa kita tidak tahu. Biasanya yang dapat hanya orang-orang yang dekat dengan lingkaran serikat. Sementara petani asli yang posisinya jauh justru sering terlewat," tegas Sami sebagaimana dikutip dari jateng.disway.id.

Kategori :