Fear of Missing Out (FOMO) dan Kesehatan Mental Remaja

Sabtu 30-05-2026,09:00 WIB
Editor : Adi Mulyadi

radartegal.com - Di era media sosial saat ini, kehidupan manusia seolah tidak pernah berhenti bergerak. Setiap hari masyarakat disuguhi berbagai unggahan tentang pencapaian, gaya hidup, liburan, pertemanan, hingga kesuksesan orang lain.

Dalam hitungan detik, seseorang dapat melihat teman seusianya telah lulus lebih cepat, bekerja di perusahaan besar, membuka usaha, membeli kendaraan baru, atau menikmati nongkrong di tempat-tempat estetik yang sedang tren.

Fenomena ini melahirkan kondisi psikologis yang dikenal dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO. Secara sederhana, FOMO adalah rasa takut tertinggal pengalaman, tren, informasi, atau pencapaian yang dimiliki orang lain. Kondisi ini banyak dialami remaja dan mahasiswa yang sedang berada pada fase pencarian jati diri dan pengakuan sosial.

Sekilas FOMO tampak sepele. Namun jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Banyak remaja menjadi mudah cemas, tidak percaya diri, sulit merasa cukup, bahkan terus membandingkan hidupnya dengan orang lain. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana komunikasi justru berubah menjadi arena perlombaan sosial yang melelahkan secara emosional.

Dalam kehidupan sehari-hari, FOMO terlihat dari perilaku yang sebenarnya mulai dianggap biasa. Misalnya merasa gelisah ketika tidak membuka media sosial dalam waktu lama, memaksa ikut nongkrong demi dianggap gaul, membeli barang karena takut dianggap ketinggalan tren, atau merasa gagal hanya karena melihat teman lain tampak lebih sukses di media sosial.

Padahal apa yang tampil di media sosial sering kali hanyalah bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Tidak semua kesulitan, kegagalan, tekanan hidup, atau perjuangan ditampilkan di ruang digital. Sayangnya, banyak remaja membandingkan kehidupan nyata dirinya dengan “versi terbaik” kehidupan orang lain di media sosial. Akibatnya muncul rasa kurang, iri, dan kelelahan mental yang perlahan mengganggu kesehatan jiwa.

Fenomena ini juga berdampak pada mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa merasa tertinggal ketika melihat temannya aktif organisasi, memiliki prestasi akademik, produktif membuat konten, sekaligus tampak bahagia. Akhirnya mereka memaksakan diri untuk selalu aktif dan produktif tanpa mengenali batas kemampuan diri. Jika kondisi ini berlangsung lama, bukan tidak mungkin muncul stres akademik, gangguan tidur, kelelahan emosional, hingga burnout.

Sebagai pendidik di bidang keperawatan jiwa, fenomena FOMO perlu menjadi perhatian bersama. Kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan gangguan jiwa berat, tetapi juga bagaimana seseorang mampu mengelola emosi, tekanan sosial, dan menerima dirinya secara sehat. Remaja perlu dibantu memahami bahwa hidup bukan perlombaan yang harus dimenangkan setiap saat.

Sebagai tenaga pendidik, khususnya di lingkungan pendidikan kesehatan, fenomena FOMO juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembelajaran. Pendidik tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki peran penting dalam membangun kesehatan mental peserta didik. Mahasiswa perlu dibimbing agar mampu mengenali tekanan psikologis yang mereka alami, termasuk kecenderungan membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain.

Di lingkungan kampus, tenaga pendidik dapat menciptakan suasana belajar yang lebih suportif dan tidak semata-mata berorientasi pada kompetisi. Mahasiswa perlu diberikan pemahaman bahwa keberhasilan bukan hanya diukur dari nilai akademik, jumlah organisasi yang diikuti, ataupun pencapaian yang dipamerkan di media sosial. Setiap mahasiswa memiliki potensi, kemampuan, dan proses perkembangan yang berbeda.

Selain itu, tenaga pendidik juga dapat menjadi contoh dalam penggunaan media sosial yang sehat dan bijak. Edukasi mengenai kesehatan mental, manajemen stres, pengendalian penggunaan gadget, serta pentingnya keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata perlu terus disampaikan dalam berbagai kesempatan pembelajaran maupun kegiatan kemahasiswaan.

Dengan pendekatan yang lebih humanis, kampus tidak hanya menjadi tempat mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga individu yang sehat secara mental, mampu mengelola tekanan sosial, dan memiliki ketahanan diri menghadapi dinamika kehidupan di era digital.

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak FOMO. Pertama, membatasi waktu penggunaan media sosial agar tidak terus-menerus terpapar perbandingan sosial. Kedua, belajar bersyukur terhadap proses hidup diri sendiri. Ketiga, memperkuat hubungan nyata dengan keluarga dan teman, bukan hanya hubungan digital. Keempat, memahami bahwa setiap orang memiliki waktu dan jalan hidup yang berbeda.

Selain itu, penting bagi orang tua, pendidik, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat secara psikologis. Remaja tidak seharusnya hanya dinilai dari pencapaian akademik, popularitas, atau gaya hidupnya. Mereka juga membutuhkan ruang untuk bertumbuh tanpa tekanan berlebihan.

Pada akhirnya, media sosial bukanlah sesuatu yang harus dimusuhi. Teknologi tetap memiliki banyak manfaat jika digunakan secara bijak. Namun masyarakat perlu menyadari bahwa kesehatan mental jauh lebih penting dibanding sekadar pengakuan sosial di dunia digital.

Kategori :