Penderita ISPA di Brebes Capai 14 Ribu Pasien, Pola Hidup Sehat Perlu Ditingkatkan

Penderita ISPA di Brebes Capai 14 Ribu Pasien, Pola Hidup Sehat Perlu Ditingkatkan

Kepala Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Brebes dr. Heru Pabnobo mengingatkan masyarakat untuk memperkuat pola hidup sehat.(istimewa)--

BREBES, radartegal.com - Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Brebes dr. Heru Padmonobo, M.Kes mengingatkan masyarakat untuk memperkuat pola hidup sehat. Hal itu disampaikan menyusul tingginya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). 

Data dari Dinkesda Brebes saat ini sekitar 14 ribu pasien telah terjangkit ISPA. Dari jumlah itu, sekitar 10 persen diperkirakan membutuhkan penanganan intensif karena mengalami kondisi lebih berat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Heru Padmonobo mengatakan, penderita ISPA memiliki tingkat keparahan yang berbeda, mulai dari ringan, sedang, hingga berat. Pasien dengan kondisi berat membutuhkan penanganan medis lebih lanjut, termasuk perawatan di rumah sakit.

“ISPA itu kategorinya ringan, sedang, berat. Yang masuk rumah sakit pasti yang berat,” ungkapnya, Selasa 6 Oktober 2026.

BACA JUGA: Kasus Ispa di Brebes Meningkat, Dinkesda Minta Warga Waspada dan RS Siapkan Bed

BACA JUGA: Dokter Heru Padmonobo Nakhodai Dinkes Brebes

Menurut Heru, tidak semua pasien ISPA memerlukan penanganan intensif. Perkiraan pasien yang membutuhkan perawatan sekitar 10 persen dari sekitar 14 ribu pasien yang mengalami ISPA.

“Paling mungkin di 10 persen,” ujarnya.

Heru menyampaikan, penularan ISPA hampir sama dengan Covid-19. Serta perlu diingat warga harus meningkatkan kewaspadaan terhadap kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi.

Balita, anak dan lanjut usia, serta warga yang mempunyai penyakit penyerta atau komorbid menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.

BACA JUGA: Dinkes Kabupaten Tegal Perketat Pengawasan Izin SPPIRT IRTP

BACA JUGA: Inovasi KACANG BOGARES Diluncurkan di SMAN 3 Slawi, Dinkes Kabupaten Tegal Perkuat Pencegahan Stunting

“ISPA akan rentan pada usia-usia, satu balita, kedua lansia, atau yang mempunyai penyakit komorbid. Itu hampir sama,” katanya.

Balita dan lansia dinilai lebih berisiko mengalami kondisi yang berat ketika terkena infeksi saluran pernapasan. Risiko serupa juga dapat terjadi pada orang yang memiliki penyakit penyerta karena kondisi kesehatannya dapat memperberat infeksi.

Heru meminta masyarakat memperhatikan kondisi anggota keluarga yang masuk dalam kelompok rentan tersebut. Jika gejala gangguan pernapasan semakin berat, pasien perlu segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis.

Heru menjelaskan selain kondisi daya tahan tubuh, faktor cuaca juga disebut berpengaruh terhadap munculnya gangguan saluran pernapasan. Heru membenarkan adanya pengaruh kondisi cuaca terhadap kasus ISPA.

BACA JUGA: Dinkes Tegal Atur Rencana Kebutuhan Obat Hipertensi di Puskesmas

BACA JUGA: Cara Dinkes Tekan Angka Kematian Ibu di Kabupaten Tegal

“Pengaruh. Pengaruh cuaca,” ujarnya.

Menurut dia, penanganan pasien lebih ditentukan berdasarkan tingkat keparahan penyakit. Tenaga kesehatan membedakan kondisi Ispa berdasarkan kategori ringan, sedang, atau berat untuk menentukan kebutuhan penanganan.

“Kita hanya membedakan untuk ISPA ini sedang, berat. Kalau yang berat butuh penanganan,” katanya.

Untuk mengurangi risiko penularan, Dinas Kesehatan Brebes mendorong masyarakat membudayakan gerakan masyarakat hidup sehat (Germas). Upaya pencegahan juga dilakukan melalui anjuran menggunakan masker, terutama ketika seseorang mengalami gejala gangguan pernapasan.

BACA JUGA: Dinkes Kabupaten Tegal Imbau Pelaku Usaha Kantongi Sertifikat Laik Sehat

BACA JUGA: Optimalisasi Keahlian Kader, Dinkes Kabupaten Tegal Pacu Digitalisasi Posyandu

Heru mengatakan Ispa dapat menular melalui droplet atau percikan dari saluran pernapasan. Kontak dekat dengan orang yang sedang sakit dapat meningkatkan risiko penularan.

“Penyebarannya melalui droplet, percikan ludah,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait