Ida Farida Dosen Harkat Negeri Raih Gelar Doktor Ekonomi UNS
--
TEGAL, radartegal.com - Menerapkan inovasi ramah lingkungan di industri properti rupanya tak selalu berjalan mulus jika terbentur sistem manajemen internal yang terlalu kaku.
Temuan menarik ini terungkap dalam disertasi doktor yang dipertahankan oleh Dosen Harkat Negeri Ida Farida di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada Jumat (11/9/2026).
Ida Farida yang juga selaku Wakil Dekan Fakultas Sosial Humaniora Universitas Harkat Negeri tersebut mengkaji langsung hubungan pengendalian manajemen dan pembangunan berkelanjutan di sektor real estat.
Dilema Inovasi Hijau dan Kontrol Manajemen di Bisnis Properti
Banyak pelaku industri mengira bahwa menyuntikkan teknologi ramah lingkungan ke proyek properti otomatis mendongkrak keuntungan finansial. Hasil riset mendalam Ida Farida justru memperlihatkan dinamika yang berbeda di lapangan.
Dalam disertasinya yang berjudul “Sistem Pengendalian Manajemen, Pembangunan Berkelanjutan dan Kinerja Perusahaan: Inovasi Proses dan Produk Hijau sebagai Variabel Moderasi”, ia membedah potensi ketegangan antara aturan birokrasi internal dengan kebutuhan inovasi yang adaptif.
Mengapa Aturan Kaku Bisa Menghambat Inovasi Proses Hijau?
Salah satu temuan paling mengejutkan dari penelitian ini terletak pada peran Inovasi Proses Hijau. Ketika perusahaan mengadopsi teknik konstruksi ramah lingkungan, efisiensi energi, atau pengurangan limbah, pengaruh Sistem Pengendalian Manajemen terhadap kinerja perusahaan justru menunjukkan kecenderungan negatif.
Ada beberapa alasan mendasar di balik kondisi tersebut:
• Membatasi Keleluasaan Tim: Sistem pengendalian formal dan struktural yang terlalu mengekang berpotensi membelenggu ruang gerak tim operasional dalam berkreasi.
• Butuh Fleksibilitas Tinggi: Penerapan metode ramah lingkungan memerlukan keberanian bereksperimen dan kecepatan beradaptasi dengan kendala di lapangan.
• Birokrasi Memperlambat Keputusan: Aturan internal yang kaku membuat ide-ide inovatif hijau sering kali kandas atau berjalan lambat.
Meski begitu, hasilnya berbalik positif ketika Inovasi Proses Hijau dinaungi langsung oleh komitmen Pembangunan Berkelanjutan yang kuat. Ketika prinsip hijau sudah terintegrasi dalam strategi utama perusahaan, inovasi proses terbukti ampuh meningkatkan efisiensi operasional, menekan biaya, meminimalkan risiko lingkungan, serta menjaga kepatuhan terhadap regulasi.
Bagaimana Tantangan Inovasi Produk Hijau Bagi Konsumen?
Bagaimana dengan rumah atau gedung ramah lingkungan yang dipasarkan langsung ke konsumen (Inovasi Produk Hijau)?
Riset berbasis teori Resource-Based View (RBV) ini mendapati fakta bahwa Inovasi Produk Hijau belum terbukti memberikan efek moderasi yang signifikan terhadap kinerja perusahaan, baik melalui sistem pengendalian manajemen maupun kerangka pembangunan berkelanjutan.
Kondisi ini terjadi karena beberapa faktor utama:
1. Investasi Awal Tinggi: Mengembangkan produk properti bernuansa hijau memerlukan biaya riset dan produksi yang tidak sedikit, sehingga belum tentu menghasilkan imbal hasil finansial secara mendadak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


