Upaya Desa Tembok Luwung Hidupkan Kembali Iket Bebed Khas Tegal

Upaya Desa Tembok Luwung Hidupkan Kembali Iket Bebed Khas Tegal

PELATIHAN - Sejumlah ibu-ibu warga Desa Tembok Luwung, Kabupaten Tegal mengikuti pelatihan membuat iket bebed khas Tegal, Jumat (17/7/2026).-Yeri Noveli/Radar Tegal Grup-

ADIWERNA, radartegal.com - Desa Tembok Luwung di Kecamatan ADIWERNA mengambil langkah berani untuk menjaga kelestarian warisan leluhur. Di tengah kepungan tren modern, desa ini memilih menghidupkan kembali iket bebed khas Tegal yang kini kian langka.

Langkah nyata tersebut dimulai lewat agenda pelatihan pembuatan busana adat yang berlangsung pada Jumat (17/7/2026). Program kolaborasi Tim Penggerak PKK dan Karang Taruna ini menjadi tonggak awal pembentukan pusat produksi kain penutup kepala tradisional di wilayah Tegal.

Inisiatif ini bukan sekadar agenda keterampilan biasa. Lewat kegiatan ini, pemerintah desa mengusung misi besar agar identitas lokal tetap berdenyut dalam keseharian warga, bukan cuma menjadi pajangan museum atau pelengkap acara formal semata.

Kebijakan Desa Bangga Budaya dan Rencana Produksi Massal

Kepala Desa Tembok Luwung, Sugi Pranoto, menegaskan komitmennya untuk menempatkan perlindungan tradisi sebagai agenda prioritas melalui gerakan Desa Bangga Budaya. Langkah ini diambil untuk memastikan warisan daerah tetap lestari di tanah sendiri.

BACA JUGA:Pilkades Serentak 2027 Kabupaten Tegal, Ini Cara Forkopimda Redam Konflik dan Hoaks

BACA JUGA:Finalis Sinok Sitong Kota Tegal 2026 Uji Mental Jelang Grand Final

"Kami berharap PKK dan Karang Taruna nantinya mampu memproduksi iket bebed khas Tegal secara massal. Sepengetahuan kami, kerajinan seperti ini belum diproduksi di desa lain," ujar Sugi pada Minggu (19/7/2026).

Pemerintah desa sudah menyusun target jangka pendek yang terukur. Karya perdana dari pelatihan ini rencananya bakal dipakai secara serentak oleh seluruh perangkat desa, lembaga kemasyarakatan, serta warga saat parade kirab budaya pada 1 Agustus 2026.

Sugi menilai, momen tersebut menjadi penanda penting bahwa masyarakat Tegal harus bangga terhadap akar budayanya sendiri. Penggunaan busana tradisional secara rutin diharapkan mampu memperkuat karakter dan rasa memiliki warga terhadap daerahnya.

Sebagai langkah lanjutan, pihak desa tengah merancang regulasi khusus bagi para aparatur pemerintahan. Seluruh perangkat dan lembaga desa nantinya diwajibkan mengenakan pakaian adat Tegal pada hari-hari tertentu setiap minggunya.

BACA JUGA:Krisis Kepercayaan, Keuangan BUMDes Munjungagung Tegal Didesak Audit Total

BACA JUGA:Bupati Tegal Serap Aspirasi Warga Tarub untuk Arah Pembangunan 2026

"Kami ingin budaya ini menjadi kebiasaan, bukan hanya dipakai saat ada acara seremonial. Harapannya, kecintaan terhadap budaya Tegal tumbuh dari lingkungan pemerintahan lalu menular ke masyarakat," tegas Sugi.

Menyingkap Sejarah Iket Bebed yang Sempat Terlupakan

Budayawan sekaligus pengamat sejarah lokal Tegal, W. Winarno, bertindak langsung sebagai instruktur dalam pelatihan tersebut. Ia menyebut bahwa publik selama ini lebih akrab dengan iket cleret atau iket wulung yang dahulu dipopulerkan oleh mendiang Bupati Tegal Ki Enthus Susmono.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: