Harga Panel Surya Industri: 8 Komponen yang Menentukan Biaya PLTS
Pemasangan PLTS Atap di Pabrik Manufaktur Plastik--
Karena spesifikasi dan kondisi setiap fasilitas berbeda, daftar harga panel surya untuk kebutuhan industri sebaiknya dibaca sebagai kerangka komponen biaya, bukan harga paket yang otomatis berlaku untuk semua pabrik. Dua pabrik dengan kapasitas PLTS yang sama dapat memiliki kombinasi biaya yang berbeda tergantung pada kondisi lapangan, scope pekerjaan, spesifikasi sistem, dan skema proyek yang dipilih.
Faktor Lokasi dan Desain yang Membuat Biaya per kWp Berbeda
Selain delapan komponen biaya di atas, faktor lokasi dan desain juga dapat membuat biaya per kWp berbeda antarproyek, meskipun kapasitas sistemnya sama:
- Skala sistem: Proyek berskala lebih besar umumnya memiliki peluang untuk memperoleh biaya per kWp yang lebih efisien, karena beberapa biaya dapat tersebar pada kapasitas yang lebih besar. Namun, efisiensi biaya tetap bergantung pada kompleksitas masing-masing proyek.
- Jenis dan umur atap: Jenis, usia, dan kondisi atap dapat memengaruhi kebutuhan pekerjaan struktur. Atap yang memerlukan penguatan atau penyesuaian tambahan dapat meningkatkan biaya proyek.
- Akses kerja: Kemudahan tim instalasi untuk menjangkau area atap memengaruhi durasi dan biaya pekerjaan konstruksi.
- Jarak array ke inverter, MDP, atau trafo: Jarak tersebut memengaruhi panjang jalur kabel, kebutuhan material, dan potensi kehilangan energi selama penyaluran listrik. Dampaknya juga bergantung pada konfigurasi dan ukuran kabel yang digunakan.
- Shading dan layout: Bayangan dari bangunan atau objek sekitar dapat membatasi area efektif pemasangan, memengaruhi layout panel, dan menurunkan potensi produksi energi.
- Pekerjaan malam dan shutdown: Proyek yang membutuhkan koordinasi ketat dengan jadwal operasi pabrik, termasuk pekerjaan di luar jam operasional, berpotensi menambah biaya konstruksi.
- Spesifikasi panel, inverter, dan target performance ratio: Pilihan panel dan inverter serta target performance ratio dapat memengaruhi desain, kebutuhan peralatan, estimasi produksi, dan struktur biaya proyek.
CAPEX Awal Tidak Sama dengan Biaya Sepanjang Umur Sistem
Salah satu kekeliruan dalam membandingkan proposal PLTS adalah menyamakan biaya investasi awal (CAPEX) dengan total biaya yang dikeluarkan selama masa operasi. Keduanya perlu dilihat sebagai bagian yang berbeda dalam menilai keekonomian proyek.
- CAPEX awal dan kepemilikan aset: CAPEX mencakup biaya pengadaan dan pemasangan sistem. Dalam skema pembelian langsung, aset menjadi milik perusahaan sejak awal sesuai ketentuan transaksi.
- O&M dan penggantian komponen: Biaya O&M muncul selama masa operasi, sementara penggantian komponen dapat diperlukan tergantung pada umur, kondisi, garansi, dan performa masing-masing komponen.
- Downtime dan risiko produksi: Gangguan pada sistem dapat mengurangi produksi listrik. Sistem monitoring dan respons gangguan yang baik membantu mendeteksi masalah lebih cepat dan mengurangi potensi downtime berkepanjangan.
- Garansi produk dan garansi performa: Garansi produk berkaitan dengan cacat atau fungsi produk sesuai syarat garansi, sedangkan garansi performa berkaitan dengan tingkat kinerja atau output yang dijanjikan dalam periode tertentu. Keduanya memiliki cakupan dan ketentuan yang berbeda.
- Yield energi dan degradasi: Asumsi yield energi dan tingkat degradasi memengaruhi proyeksi produksi listrik jangka panjang. Karena itu, perusahaan perlu memeriksa dasar perhitungan produksi, asumsi losses, serta tingkat degradasi yang digunakan dalam setiap proposal.
Umur teknis, masa garansi, dan cakupan perlindungan dapat berbeda antara produk dan penyedia. Karena itu, setiap proposal perlu dibaca berdasarkan spesifikasi dan syarat yang tercantum, bukan disamakan begitu saja dengan proyek lain.
Membaca Skema Pembiayaan: Purchase, Rental, dan Leasing
Struktur pembiayaan turut menentukan bagaimana biaya PLTS dirasakan oleh perusahaan, baik dari sisi arus kas maupun kepemilikan aset. Sebagai contoh, SUN Energy menawarkan tiga skema pembiayaan dengan karakteristik yang berbeda, yaitu:
1. SUN Purchase
Skema pembelian langsung (direct purchase) memungkinkan perusahaan memiliki komponen sistem sejak awal. Skema ini membutuhkan investasi awal yang besar untuk pengadaan dan pemasangan sistem, tetapi aset menjadi milik perusahaan sejak awal sesuai ketentuan transaksi.
2. SUN Rental
Skema sewa dengan pembayaran berkala yang didasarkan pada performa sistem tenaga surya sesuai mekanisme dalam kontrak. Apabila memilih skema ini, Anda tidak memerlukan DP atau biaya pemasangan di muka.
Selama masa sewa, pengawasan dan pemeliharaan sistem menjadi tanggung jawab SUN Energy sesuai ketentuan layanan. Setelah masa sewa berakhir, perusahaan dapat memiliki komponen sistem secara penuh sesuai ketentuan skema.
3. SUN Leasing
Skema cicilan bulanan dengan nilai yang sama selama periode cicilan, disertai DP atau biaya pemasangan di muka. Nantinya setelah masa cicilan selesai, perusahaan dapat memiliki komponen sistem secara penuh sesuai ketentuan skema.
Ketiga skema tersebut memiliki konsekuensi berbeda terhadap CAPEX di muka, kepemilikan aset, O&M, dan pembagian risiko performa. Karena itu, proposal sebaiknya dibandingkan bukan hanya berdasarkan nilai pembayaran bulanan, tetapi juga total pembayaran selama masa kontrak, kepemilikan aset di akhir periode, cakupan O&M, pembagian risiko performa, dan fleksibilitas ketentuan kontrak.
Ketentuan tenor, DP, tarif, dan detail layanan pada tiap skema dapat berubah. Oleh karena itu, informasi komersial sebaiknya dikonfirmasi melalui halaman resmi atau proposal terbaru sebelum menjadi dasar keputusan.
Pengaruh Permen ESDM No. 2 Tahun 2024 terhadap Sizing dan Keekonomian PLTS
Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024 mengubah sejumlah aturan PLTS Atap, termasuk hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan kapasitas dan menghitung keekonomian proyek. Inilah pengaruh-pengaruh tersebut:
- Energi berlebih yang masuk ke jaringan tidak diperhitungkan dalam tagihan: Permen ESDM No. 2 Tahun 2024 menetapkan bahwa kelebihan energi listrik dari Sistem PLTS Atap yang masuk ke jaringan pemegang IUPTLU tidak diperhitungkan dalam penentuan jumlah tagihan listrik pelanggan.
- Porsi listrik yang langsung digunakan oleh fasilitas menjadi penting: Karena energi berlebih yang masuk ke jaringan tidak diperhitungkan dalam tagihan, porsi produksi PLTS yang dapat langsung digunakan oleh fasilitas menjadi salah satu faktor penting dalam menilai keekonomian sistem.
- Kapasitas pemasangan mengikuti ketersediaan kuota: Kapasitas Sistem PLTS Atap yang akan dipasang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan berdasarkan kuota pengembangan PLTS Atap, bukan semata-mata berdasarkan persentase dari daya terpasang pelanggan. Kuota tersebut ditetapkan untuk sistem tenaga listrik dan kemudian disusun berdasarkan clustering oleh pemegang IUPTLU.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:





