Ketika Harga Pangan Menjadi Beban bagi Masyarakat Kecil
--
Penulis: Mahasiswa Universitas Pancasakti Tegal, Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis
- Aya Namiraanindia - NIM: 4124600129
radartegal.com - Kenaikan harga bahan pangan mungkin terlihat sebagai persoalan biasa dalam perekonomian. Namun, bagi masyarakat berpenghasilan pas-pasan, perubahan harga bisa menentukan apakah uang belanja cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga hingga akhir bulan. Ketika harga beras, cabai, minyak goreng, dan kebutuhan lainnya meningkat, masyarakat tidak selalu memiliki pilihan untuk mengurangi pengeluaran. Sebab, makan bukan kebutuhan yang bisa ditunda hanya karena keadaan ekonomi sedang sulit.
Badan Pusat Statistik (BPS), dalam rilis pada 1 Oktober 2026, mencatat bahwa inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen. Sementara itu, laporan Dewan Ekonomi Nasional pada 15 Oktober 2026 mencatat harga cabai merah meningkat 35,1 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut dikaitkan dengan berkurangnya pasokan akibat penurunan produksi dan kondisi panen.
Angka-angka tersebut bukan sekadar catatan statistik. Di baliknya, ada masyarakat yang harus menyesuaikan uang belanja, mengurangi pengeluaran lain, atau mencari cara agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Persoalannya, sampai kapan masyarakat harus terus menyesuaikan diri ketika harga kebutuhan pokok berubah, sementara kemampuan ekonomi setiap keluarga tidak sama?
Berhemat Bukan Jawaban untuk Semuanya
Ketika biaya hidup meningkat, masyarakat sering kali diminta untuk lebih bijak mengatur keuangan. Anjuran itu memang masuk akal, tetapi tidak semua kesulitan ekonomi terjadi karena seseorang tidak mampu mengelola uang.
Bagaimana jika penghasilan seseorang sudah hampir seluruhnya digunakan untuk membeli makanan, membayar tempat tinggal, dan memenuhi kebutuhan keluarga? Apa lagi yang harus dihemat ketika pengeluaran yang tersisa bukan lagi soal keinginan, melainkan kebutuhan dasar?.
Masyarakat berpenghasilan rendah tidak selalu membutuhkan nasihat untuk mengurangi pengeluaran. Dalam banyak keadaan, yang mereka butuhkan adalah kondisi ekonomi yang memungkinkan penghasilan mereka cukup untuk menjalani kehidupan secara layak.
Kenaikan harga juga tidak memberikan dampak yang sama kepada semua orang. Bagi kelompok berpenghasilan tinggi, perubahan harga mungkin masih dapat diatasi dengan menyesuaikan anggaran. Namun, bagi pekerja harian, buruh, pedagang kecil, dan masyarakat dengan pendapatan tidak tetap, kenaikan harga pangan bisa menjadi beban yang lebih berat. Ketika pendapatan tidak ikut meningkat, mereka terpaksa mengurangi pengeluaran lain, termasuk kebutuhan pendidikan, transportasi, dan kesehatan.
Persoalan ini menunjukkan bahwa kesulitan ekonomi tidak bisa hanya dipandang sebagai urusan individu. Kita juga perlu melihat apakah penghasilan masyarakat masih sebanding dengan biaya kebutuhan sehari-hari. Ketika sebagian besar pendapatan habis untuk memenuhi kebutuhan dasar, kesempatan untuk menabung dan memperbaiki kehidupan menjadi semakin terbatas.
Jangan Biarkan Rakyat Berjuang Sendirian
Menjaga keterjangkauan pangan bukan sekadar persoalan pasar. Pemerintah perlu memastikan pasokan tersedia, distribusi berjalan dengan baik, dan lonjakan harga ditangani sesuai penyebabnya. Dukungan kepada petani juga penting agar upaya menjaga harga tetap terjangkau tidak justru mengorbankan penghasilan produsen.
Pada 12 Oktober 2026, Kementerian Pertanian Republik Indonesia mengumumkan upaya penguatan distribusi cabai melalui kerja sama dengan Champion Cabai Indonesia. Kemudian, pada 15 Oktober 2026, Badan Pangan Nasional menyampaikan upaya membantu pengiriman pasokan cabai dari daerah produsen menuju wilayah yang mengalami kekurangan pasokan. Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa kelancaran distribusi menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga ketersediaan pangan dan meredam gejolak harga.
Namun, kebijakan tidak seharusnya berhenti pada penanganan ketika harga sudah telanjur meningkat. Pemerintah perlu mengantisipasi gangguan produksi, memperkuat pengawasan distribusi, dan memastikan bantuan sosial menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.
Upaya menjaga harga pangan juga harus memperhatikan kepentingan petani dan konsumen secara bersamaan. Harga yang terlalu tinggi dapat membebani konsumen, tetapi harga yang terlalu rendah juga berisiko merugikan petani. Karena itu, kebijakan pangan perlu membangun sistem produksi dan distribusi yang adil serta berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


