Belum Setahun Beroperasi, TPA Bokong Semar Tegal Kritis: DPRD Sorot Program Gropyokan Sampah
TPA - Komisi III DPRD Kota Tegal sidak operasional TPA Bokong Semar. Belum genap setahun tumpukan sampah sudah menggunung hingga 9 meter.-K. Anam Syahmadani/Radar Tegal Grup-
Ringkasan Cepat:
- Kondisi TPA: TPA Bokong Semar yang baru beroperasi 10 bulan sudah darurat dengan tumpukan sampah mencapai ketinggian 9 meter.
- Volume Sampah: Total produksi sampah Tegal mencapai 120 ton per hari, namun pemotongan dari sumber belum mencapai 10 persen.
- Evaluasi Program: Program Gropyokan Nangani Sampah baru memangkas 10 ton sampah per hari (turun menjadi 110 ton/hari) dan dinilai belum signifikan.
- Solusi Jangka Panjang: Pemkot menyiapkan TPST beranggaran total Rp4,6 miliar (fisik dan mesin) untuk mengolah sampah menjadi RDF bersama mitra asal Cilacap.
TEGAL, radartegal.com - Tumpukan limbah di TPA Bokong Semar, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, terus menggunung hingga menyentuh ketinggian sembilan meter. Padahal, fasilitas pemrosesan sampah milik Pemerintah Kota Tegal ini baru resmi dioperasikan selama sepuluh bulan.
Kondisi kritis tersebut memicu perhatian serius dari Komisi III DPRD Kota Tegal. Rombongan dewan secara mendadak menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi pembuangan akhir tersebut untuk melihat langsung situasi di lapangan.
Rombongan yang dipimpin Ketua Komisi III Sutari, bersama Sekretaris Nur Fitriani dan Anggota Muhammad Masruri, harus melintasi akses jalan tanah bergelombang menuju lokasi. Setibanya di sana, armada truk tua tampak mengantre panjang di tengah deru excavator yang terus bekerja memindahkan gunungan sampah.
Program Reduction Sampah Belum Maksimal
Sidak lapangan ini memperlihatkan bahwa beban limbah yang masuk ke TPA Bokong Semar masih sangat tinggi. Pemkot Tegal sebenarnya telah meluncurkan gerakan Gropyokan Nangani Sampah, namun dampaknya dinilai belum optimal mereduksi volume limbah warga.
BACA JUGA:DPRD Karanganyar Studi Banding ke Pemkab Tegal, Bahas Sampah hingga Infrastruktur
Berdasarkan data operasional, program Gropyokan saat ini baru memangkas sekitar 10 ton sampah setiap harinya. Angka tersebut terbilang kecil jika dibandingkan dengan total beban sampah harian Kota Tegal yang menembus 120 ton per hari.
"Faktanya, timbunan sampah yang dibuang ke TPA sudah sangat tinggi. Program tersebut belum signifikan mengurangi sampah yang masuk. Kami mendorong agar ada evaluasi menyeluruh untuk menemukan letak kelemahannya," tegas Ketua Komisi III DPRD Kota Tegal, Sutari.
Kejar Target Pengolahan Sampah Melalui TPST dan RDF
Untuk mengatasi krisis lahan ini, Pemkot Tegal kini menerapkan sistem sanitary landfill. Metode ini menyaring air lindi melalui kolam penampungan khusus sebelum dibuang aman ke saluran lingkungan.
Selain itu, skema jangka panjang juga tengah dipersiapkan melalui pembangunan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) skala menengah. TPST ini dirancang untuk memproses sampah non-residu menjadi bubur sampah atau Refuse Derived Fuel (RDF) yang akan didistribusikan ke perusahaan pengolah di Cilacap.
BACA JUGA:RECULA, Inovasi Mahasiswa Undip Ubah Sampah Kota Jadi Energi
BACA JUGA:Komisi III DPRD Kota Tegal Desak Percepatan Proyek Akses Jalan Menuju TPA Bokong Semar
Proyek strategis ini menyerap alokasi anggaran daerah sebesar Rp2,3 miliar untuk pembangunan fisik dan Rp2,3 miliar untuk pengadaan mesin pengolah.
Mengapa Edukasi Sampah dari Sumber Sangat Penting?
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


