Efek Domino Ledakan Belanja Online: Diskon Besar-besaran, Jerat Paylater, hingga Tekanan pada Dompet dan Harga
Ilustrasi seseorang yang kalap berbelanja online saat promo besar-besaran, dikelilingi kantong belanja, ponsel, dan keranjang digital. (Sumber: diedit dengan canva oleh penulis)--
TEGAL, radartegal.com- Belanja online kini bagian dari rutinitas harian. Cukup beberapa ketukan di layar, barang tiba di depan pintu. Namun, benarkah semua kemudahan itu tanpa konsekuensi? Di balik kemudahan itu ada rantai dampak yang saling menyambung: promo yang memancing pembelian, cicilan yang menumpuk, permintaan yang melonjak, lalu tekanan pada daya beli. Rantai ini penting dicermati menjelang rangkaian promo akhir tahun seperti 11.11 dan 12.12.
Belanja online Jadi Pilihan Utama
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan seberapa jauh kebiasaan ini bergeser. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti melaporkan bahwa transaksi perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE) tumbuh 6,2 persen secara kuartalan pada kuartal I/2026. Pertumbuhan itu terjadi saat ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen (yoy) dan Indeks Penjualan Eceran Riil naik 4,74 persen.
Selama Ramadan 2026, sebanyak 41% masyarakat memilih platform online sebagai tempat belanja utama. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan pasar lokal yang mencapai 23%. Sementara itu, sebanyak 13% masyarakat memilih mal dan toko fisik, 8% berbelanja melalui media sosial, dan 7% memilih supermarket besar. Menurut Amalia, “Belanja online ternyata menjadi pilihan utama selama momen Ramadan.”
Lonjakan paling terasa pada bulan Lebaran. Kunjungan ke Shopee mencapai 191,4 juta pada Maret 2026, naik 37,6 persen dari bulan sebelumnya. Pembayaran digital ikut melesat, dan BPS mencatat transaksi QRIS tumbuh 111,94 persen (yoy) pada kuartal I/2026 dengan total 2,16 miliar transaksi.
Bank Indonesia (BI) mencatat tren jangka panjang yang sama. Menurut data BI yang dihimpun Kontan, nilai transaksi e-commerce naik dari Rp205,5 triliun pada 2019 menjadi Rp487,01 triliun pada 2024. Pada 2023 sempat ada penurunan 4,7 persen, tetapi tren secara keseluruhan tetap naik.
Diskon dan Pembelian Impulsif
Platform belanja menawarkan diskon, gratis ongkir, dan cashback secara agresif. Apakah tawaran sebesar itu benar-benar membuat orang lebih hemat, atau justru lebih konsumtif? Beberapa studi akademik skala kecil mendapati bahwa insentif semacam itu mendorong perilaku konsumtif. Salah satu penelitian pada mahasiswa di Tegal, misalnya, menemukan bahwa pembelian tergiur oleh diskon besar, gratis ongkir, dan cashback. Temuan ini belum bisa digeneralisasi, tetapi pola serupa dikenal luas dalam riset perilaku konsumen.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) sudah lama mengingatkan hal ini. Dalam imbauan Harbolnas beberapa tahun lalu, Ketua Pengurus Harian YLKI saat itu, Tulus Abadi, mengajak konsumen: “Belanjalah berdasar pada kebutuhan (need) bukan keinginan (want).” Ia juga mengingatkan bahwa banyak diskon hanyalah gimmick marketing.
Paylater dan Cicilan yang Menumpuk
Belanja impulsif makin mudah ketika pembayaran bisa ditunda. Menurut Kontan, pengguna paylater perbankan mencapai 32,8 juta dengan outstanding Rp30,71 triliun pada semester I-2026. OJK menyebut rata-rata baki debet masih di bawah Rp1 juta, sehingga layanan ini didominasi transaksi konsumsi bernilai kecil. Pihak bank menilai mayoritas nasabah memakainya untuk kebutuhan harian, seperti makanan, kebutuhan rumah tangga, dan kesehatan.
Persoalannya, nilai kecil yang berulang bisa menumpuk. Sebagian cicilan akan jatuh tempo pada bulan-bulan berikutnya. Saat itu terjadi, uang yang seharusnya untuk kebutuhan lain terserap untuk melunasi belanja lama. YLKI pernah mengingatkan konsumen agar tidak tergoda berbelanja dengan paylater yang akhirnya menjerat utang.
Di sisi lain, ada tanda bahwa keyakinan rumah tangga mulai melemah. Menurut BI, Indeks Keyakinan Konsumen turun tiga bulan beruntun hingga Juli 2026 ke level terendah sejak Oktober 2025. Penurunan ini tidak otomatis dikaitkan dengan belanja online. Namun jika keyakinan turun sementara cicilan menumpuk, ruang belanja rumah tangga makin sempit.
Perlindungan Konsumen
Ledakan transaksi juga membawa masalah di sisi layanan. YLKI mencatat bahwa pengaduan belanja online selalu masuk tiga besar dalam lima tahun terakhir, dengan keluhan terbanyak barang tidak sampai ke tangan konsumen. Data ini berasal dari imbauan YLKI sebelumnya, tetapi masalah penipuan dan pengiriman tetap relevan seiring bertambahnya volume transaksi.
Dari Belanja Online ke Inflasi: Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Disimpulkan
Bagian ini perlu kehati-hatian. BPS tidak menyebut belanja online sebagai penyebab inflasi. BPS mencatat inflasi September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan, naik dari 3,19 persen pada Agustus. Pendorong utamanya adalah komoditas pangan dan emas perhiasan, bukan barang elektronik atau fesyen yang lazim dijual lewat promo. Menurut Kontan, emas perhiasan menyumbang andil 0,44 persen terhadap inflasi tahunan September 2026, terbesar di antara komoditas yang disebutkan. Inflasi inti tahunan tercatat 2,84 persen.
Secara teori, hubungannya bekerja di dua arah. Persaingan antarplatform dan transparansi harga bisa menekan harga barang tertentu. Sebaliknya, lonjakan permintaan musiman, kenaikan ongkos logistik, dan kemudahan kredit konsumsi dapat menambah tekanan pada harga ketika pasokan tidak mengimbangi. Besarnya kedua efek ini belum bisa dipastikan tanpa kajian khusus, dan data resmi yang ada belum memisahkannya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


