Bantah KDRT! Keluarga Yeti Margasari Tegal Minta Video yang Viral Dihapus

Bantah KDRT! Keluarga Yeti Margasari Tegal Minta Video yang Viral Dihapus

BERI KETERANGAN- Helmy Saputra bersama ibunya, Yeti Mustikawati, saat ditemui media di kediamannya di Desa Karangdawa, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, Senin 19 Oktober 2026 sore.-YERI NOVELI-

Rangkuman untuk Anda:

  • Pihak keluarga memprotes keras video viral di Margasari Tegal yang menampilkan Yeti Mustikawati, 47 tahun kejang-kejang dan dinarasikan sebagai korban KDRT.
  • Hasil pemeriksaan medis di RS Harapan Sehat Jatibarang mengungkap pemicu kejang-kejang adalah benjolan di otak kanan (gangguan saraf), bukan tindak penganiayaan.
  • Video awal direkam oleh anak korban hanya untuk keperluan konsultasi internal keluarga, namun disebarkan oleh pihak tak bertanggungjawab ke TikTok, Instagram, dan Facebook.
  • Jajaran Polsek Margasari dan Polres Tegal telah mendatangi rumah korban untuk memberikan pendampingan serta meluruskan informasi hoaks tersebut.

MARGASARI, radartegal.com- Di tengah perjuangan merawat sang ibu yang terbaring lemah akibat sakit, keluarga Yeti Mustikawati, 47 tahun, warga Dukuh Kedawung, Desa Karangdawa, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, harus menelan pil pahit. Rekaman video yang memperlihatkan kondisi Yeti saat mengalami kejang-kejang mendadak beredar luas di media sosial dengan tuduhan palsu terkait tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Guna menghentikan simpang siur informasi yang makin liar, pihak keluarga akhirnya angkat bicara pada Senin 19 Oktober 2026. Mereka dengan tegas membantah tudingan KDRT tersebut dan mendesak para pengguna internet maupun pemilik akun media sosial untuk segera menghapus rekaman video yang telanjur viral demi menjaga ketenangan proses pemulihan korban.

Fakta Medis di Balik Kondisi Yeti Mustikawati

Anak pertama korban, Helmy Saputra, 24 tahun, menceritakan kronologi sebenarnya saat ditemui di kediamannya. Peristiwa kejang-kejang itu terjadi pada Jumat 16 Oktober 2026 siang sekitar waktu salat Zuhur. Saat itu, ibunya sedang menderita sariawan parah hingga jarang makan, sehingga kondisi fisiknya sangat lemah ketika hendak mengambil air wudu di musala.

BACA JUGA: Update Kondisi Korban KDRT di Brebes: Tiga Orang Dioperasi, Satu Masuk ICU

BACA JUGA: Bupati Mitha Cover Biaya Pengobatan Korban KDRT di Randusanga Kulon Brebes

Melihat kondisi kesehatan yang menurun drastis, keluarga segera membawa Yeti ke RS Harapan Sehat Jatibarang, Kabupaten Brebes. Setelah menjalani perawatan intensif selama empat hari dan melalui pemeriksaan CT scan, tim dokter saraf menemukan adanya benjolan di bagian kanan otak korban yang menjadi pemicu utama kejang-kejang tersebut.

“Dalam video itu hanya kejang-kejang, bukan KDRT. Cuma ada yang memviralkan, katanya Bu Yeti terkena KDRT,” tutur Helmy meluruskan kabar bohong yang beredar.

Kronologi Penyebaran Video dan Beralihnya Narasi

Helmy menjelaskan bahwa video berdurasi singkat itu mulanya direkam oleh adiknya, Ozan, yang masih duduk di kelas I SMP. Saat kejadian, suami korban, Rohman, 50 tahun, sedang sibuk memperbaiki mobil di luar, sementara anggota keluarga lainnya sedang tidak ada di rumah. Ozan yang panik merekam kondisi ibunya semata-mata untuk memberitahukan dan meminta pandangan dari anggota keluarga dewasa.

Rekaman tersebut kemudian dikirimkan ke obrolan privat keluarga. Namun, saat fokus mengurus pengobatan di rumah sakit, keluarga terkejut mendapati video tersebut telah diunggah di platform TikTok, Instagram, dan Facebook dengan tambahan narasi hoaks. Helmy membantah rumor kolom komentar yang menuduh kerabat mereka di Jakarta sebagai penyebar pertama.

BACA JUGA: Viral Pemuda di Brebes Dimassa Warga Diduga Karena KDRT, Kapolsek Tanjung Ungkap Fakta Sebenarnya

BACA JUGA: Lagi Viral di Media Sosial! Cek Pilihan Destinasi Wisata Terbaru di Brebes Ini

“Saya mewakili keluarga meminta video di media sosial itu dihapus karena tidak sesuai dengan fakta. Kasihan ibu saya,” tegas Helmy.

Ia menambahkan, ibunya memang pernah mengalami KDRT beberapa tahun silam dan kecelakaan lalu lintas, tetapi insiden kejang-kejang Jumat lalu murni karena faktor medis gangguan saraf.

Respon Kepolisian dan Pendampingan Keluarga

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: