Luthfi Rombak Penanganan Stunting di Jawa Tengah, Ini Kuncinya
PENGHARGAAN- Gubernur Jateng Ahmad Luthfi memberikan penghargaan pada daerah yang berhasil menurunkan prevalensi stunting dalam Rapat Koordinasi Teknis dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting di Kota Semarang.-ISTIMEWA-
- Keberhasilan Daerah: Kabupaten Demak dan Semarang sukses menekan angka prevalensi stunting hingga menyentuh 2%, jauh di bawah rata-rata provinsi.
- Strategi Replikasi: Gubernur Jateng menginstruksikan seluruh wilayah meniru praktik baik dari dua kabupaten tersebut melalui kolaborasi lintas sektor.
- Sinergi Program: Percepatan penurunan stunting akan diperkuat dengan integrasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil dan balita.
- Target Nasional: Pencapaian di Jawa Tengah diharapkan menjadi pemicu nasional untuk mencapai target stunting 14-15% pada tahun 2029.
SEMARANG, radartegal.com- Setiap orang tua tentu mendambakan buah hatinya tumbuh sehat dan cerdas. Namun, ancaman tengkes atau hambatan pertumbuhan akibat kurang gizi masih menjadi mimpi buruk yang nyata bagi banyak keluarga. Kabar baiknya, secercah harapan baru kini hadir melalui langkah progresif dalam penanganan stunting di Jawa Tengah.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengambil langkah tegas dan strategis untuk memastikan tidak ada lagi anak-anak yang tertinggal pada masa emas pertumbuhannya. Kebijakan ini tidak hanya berfokus pada wacana, tetapi langsung meniru bukti nyata dari daerah yang telah berhasil mengalahkan krisis gizi.
Rahasia Demak dan Semarang Tekan Angka Hingga 2%
Berdasarkan data triwulan II tahun 2026, prevalensi stunting di Jawa Tengah secara keseluruhan tercatat sebesar 9,93%. Meskipun tren penurunannya menunjukkan sinyal positif sejak 2024, ketimpangan antarwilayah masih sangat terasa. Beberapa daerah seperti Wonosobo (18,05%), Purworejo (16,62%), dan Kabupaten Tegal (15,59%) masih harus berjuang keras.
BACA JUGA: Sukses Tekan Kasus, Stunting Jatinegara Tegal Turun Jadi 12,3 Persen
BACA JUGA: Program GENTING Kabupaten Tegal: Langkah Riil Door-to-Door Atasi Stunting
Di sisi lain, Kabupaten Demak dan Kabupaten Semarang justru tampil sebagai pahlawan dengan pencapaian angka yang hanya sekitar 2%. Keberhasilan luar biasa inilah yang membuat Ahmad Luthfi menetapkan kedua daerah tersebut sebagai role model utama. Seluruh dinas provinsi maupun kabupaten/kota kini diinstruksikan untuk melakukan skema amati, tiru, dan modifikasi atas praktik baik tersebut.
“Seluruh daerah saya minta agar belajar dengan Demak dan Semarang," kata Luthfi dalam Rapat Koordinasi Teknis dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting di Kota Semarang.
Gubernur menekankan bahwa masalah ini menuntut penyelesaian yang komprehensif. Mulai dari pemerintah pusat, provinsi, hingga tingkat desa harus bergerak serentak sesuai dengan kewenangannya masing-masing.
Pendataan Valid dan Sinergi Program MBG
Tingginya angka tengkes di suatu wilayah bukan sekadar masalah kurang makan. Faktor lingkungan yang kotor, sanitasi buruk, hingga pola asuh yang keliru turut menjadi penyebab utama. Oleh karena itu, Luthfi berharap daerah dengan angka tinggi segera melakukan pendataan yang valid agar intervensi yang diberikan tepat sasaran dan berkelanjutan.
BACA JUGA: Tekan Stunting dan Jaga Stabilitas Harga, DKPPP Gelar Gerakan Pangan Murah di Tegal
BACA JUGA: Anemia pada Remaja Putri: Alarm Stunting dari Pantura yang Tak Boleh Diabaikan
Untuk memperkuat perlawanan ini, pemerintah pusat siap memberikan intervensi tambahan yang terintegrasi. Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Budi Setiyono, menegaskan bahwa krisis gizi ini akan disinergikan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


