Mengenal Tradisi Jamasan Pusaka Mbah Suro di Pagiyanten Tegal

Mengenal Tradisi Jamasan Pusaka Mbah Suro di Pagiyanten Tegal

PUSAKA MBAH SURO - Pusaka dan benda-benda kuno diperlihatkan ke masyarakat dalam Haul Mbah Suro yang digelar di kediaman Abdul Haq di Desa Pagiyanten, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, 21 Agustus 2026.-K. Anam Syahmadani/Radar Tegal Grup-

TEGAL, radartegal.com - Warga Desa Pagiyanten, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kembali menggelar tradisi tahunan Jamasan Pusaka Suro Ponolawen.

Prosesi pencucian benda-benda kuno relic leluhur tersebut telah dirawat sejak awal bulan Maulud. Benda-benda kuno ini kemudian diperlihatkan kepada publik dalam peringatan Haul Mbah Suro pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Tradisi ini bukan sekadar ritual fisik membersihkan keris atau porselen tua. Bagi masyarakat setempat, Jamasan Pusaka merupakan simbol penyucian diri, penghormatan kepada tokoh penyebar agama Islam, sekaligus penguat identitas budaya daerah.

Makna Spiritual dan Filosofi Jamasan Pusaka

Ritual diawali sejak dini hari di kediaman Abdul Haq, juru kunci Makam Mbah Suro yang berlokasi tepat di depan kompleks pemakaman keramat tersebut. Lantunan doa dan tahlil mengalun sejak fajar pada 8 Maulud 1448 Hijriah (21 Agustus 2026), dihadiri warga yang memadati area hingga ke luar jendela.

BACA JUGA:13 Wisata Religi Populer di Jawa Tengah, Ada Makam Wali hingga Masjid Bersejarah

BACA JUGA:Cetak Sejarah Baru, MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang Hadirkan Cabang Disabilitas

Setelah doa bersama usai, panitia membagikan bungkusan kecil berisi nasi kuning kepada masyarakat. Meski ukurannya tidak seberapa, warga meyakini nasi kuning tersebut membawa berkah dan ketenteraman.

Usai pembagian hidangan, benda-benda kuno yang telah dijamas dipajang di dalam lemari kaca. Koleksi yang diperlihatkan mencakup keris, pedang, perkakas tua, hingga batu umpak (alas tiang bangunan kuno).

Abdul Haq, atau yang akrab dipanggil Pak Yak, menjelaskan bahwa istilah jamasan atau pencucian pusaka mengandung makna islah (mawas diri).

"Jamasan adalah simbol untuk membersihkan dan menjernihkan hati saat menyambut lembaran hidup baru. Ini adalah tanda bakti kami untuk mengenang jasa leluhur serta merawat identitas budaya," ujar Pak Yak.

BACA JUGA:Misteri Batu Merah Simpang Gili Tugel Tegal, Benarkah Terkait Titik Nol dan Warisan Sejarah?

BACA JUGA:Sejarah Tersembunyi Pasar Pagi Tegal dan Jejak Sumur Kuno Bupati Kaloran

Pak Yak menegaskan bahwa benda-benda tersebut tidak memiliki kekuatan magis mandiri. Segala bentuk keselamatan, perlindungan, dan berkah semata-mata datang dari izin Allah SWT.

Sejarah Mbah Suro dan Jejak Peradaban di Pagiyanten

Berdasarkan tutur sejarah lokal, Mbah Suro memiliki nama asli Syekh Syarif Abdurrahman. Beliau merupakan seorang ulama yang berasal dari Baghdad, Irak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: