Puluhan Pasutri di Brebes Ikut Sekolah Keluarga Indonesia DPD PKS
Puluhan pasang suami istri (Pasutri) di Kabupaten Brebes mengikuti Sekolah Keluarga Indonesia, Senin 10 Agustus 2026.(istimewa) --
BREBES, radartegal.com - Puluhan pasang suami istri (Pasutri) di Kabupaten Brebes mengikuti Sekolah Keluarga Indonesia, Senin 10 Agustus 2026. Kegiatan yang diselenggarakan Bidang Perempuan dan Keluarga (Bipeka) DPD PKS Brebes dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) ini, menghadirkan Sururul Fuad, Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, sebagai pembicara.
Mengangkat tema “Pengelolaan Emosi dan Waktu, Kunci Ketahanan Keluarga Harmonis”, kegiatan dikemas secara interaktif. Selain mendapatkan materi tentang parenting dan ketahanan keluarga, peserta juga mengikuti berbagai permainan atau games yang dirancang untuk membangun komunikasi, kekompakan, dan refleksi bersama antara suami dan istri.
Ketua DPD PKS Brebes, Mizan dalam sambutannya menyampaikan bahwa keluarga merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat dan generasi masa depan. Dia menyebutkan, ada berbagai persoalan yang dihadapi anak dan remaja tidak dapat dilepaskan dari kondisi lingkungan keluarga.
“Kalau kita ingin anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang kuat, maka kita harus memastikan keluarga menjadi tempat pertama yang memberikan keteladanan, kasih sayang, pendidikan dan perlindungan,” ujarnya.
BACA JUGA:Penemuan Mayat di Sungai Pemali Gegerkan Warga Pesantunan Wanasari Brebes
BACA JUGA:BREAKINGNEWS! Gedung Bekas Pabrik Bihun di Brebes Terbakar
Dia menilai peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum penting untuk kembali mengingatkan bahwa tanggung jawab terhadap masa depan anak bukan hanya berada di sekolah atau pemerintah.
“Anak-anak kita bukan hanya membutuhkan fasilitas, tetapi membutuhkan kehadiran orang tua. Karena itu, membangun keluarga yang kuat adalah bagian dari ikhtiar kita menyiapkan generasi masa depan,” katanya.
Lewat Sekolah Keluarga Indonesia ini, dia berharap dapat menjadi ruang pembelajaran yang memberikan manfaat langsung bagi keluarga.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang untuk saling belajar dan saling menguatkan. Mudah-mudahan para peserta pulang membawa bekal yang bisa dipraktikkan di rumah bersama pasangan dan anak-anak,” terangnya.
BACA JUGA:Direktur IDKD Kemendagri ke Disdukcapil Brebes, Dorong Warga Aktivasi IKD
BACA JUGA:Hari Ketiga Kebakaran Gudang di Slatri Larangan Brebes, Api Masih Menyala
Sementara itu, Ketua Bipeka DPD PKS Brebes, Muharni, mengatakan bahwa penyelenggaraan Sekolah Keluarga Indonesia merupakan bagian dari ikhtiar untuk memperkuat peran keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Menurutnya, keluarga saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari penggunaan gawai, perubahan pola komunikasi, kesibukan orang tua, hingga berbagai persoalan sosial yang dapat memengaruhi perkembangan anak.
“Karena itu, keluarga harus terus belajar. Menjadi orang tua bukan berarti kita otomatis mengetahui semua cara mendidik anak. Kita juga perlu belajar bagaimana berkomunikasi, bagaimana mengelola emosi dan bagaimana menyediakan waktu yang berkualitas untuk keluarga,” katanya.
Ditempat yang sama, Sururul Fuad mengatakan bahwa tantangan keluarga saat ini bukan semata-mata karena hilangnya rasa cinta, tetapi sering kali karena keluarga kehilangan waktu berkualitas, komunikasi yang sehat, kesabaran, dan kemampuan mengendalikan emosi.
BACA JUGA:Sudah 24 Jam, Kebakaran Gudang di Slatri Larangan Brebes Masih Belum Padam
BACA JUGA:SKM Dinperwaskim Brebes Capai 90,88, Predikat Sangat Baik
“Banyak keluarga sebenarnya masih saling mencintai. Persoalannya, mereka kehabisan waktu untuk saling berbicara, kehabisan kesabaran untuk saling memahami, dan terkadang lebih mudah melampiaskan emosi daripada mencari solusi,” ujarnya.
Menurutnya, keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah. Justru ketahanan keluarga terlihat dari kemampuan anggota keluarga menghadapi dan menyelesaikan masalah bersama.
“Jangan ukur keharmonisan keluarga dari tidak adanya konflik. Ukurlah dari bagaimana suami dan istri menyelesaikan konflik. Apakah dengan kemarahan, saling menyalahkan, atau dengan komunikasi, musyawarah, kesabaran, dan kembali kepada Allah,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




