Respon Banyaknya OTT KPK, Warga Jateng gelar Ritual Ruwatan di Tipikor Semarang

Respon Banyaknya OTT KPK, Warga Jateng gelar Ritual Ruwatan di Tipikor Semarang

RUWATAN - Massa Aliansi Rakyat Jateng Peduli Antikorupsi menggelar ritual ruwatan di Pengadilan Tipikor Semarang sikapi maraknya OTT di Jateng.-Umar Dani/Diswayjateng.id/Radar Tegal Grup-

SEMARANG, radartegal.com – Keprihatinan mendalam atas maraknya kasus Operasi Tangkap Tangan (OTT) di wilayah Jawa Tengah memicu aksi unik dari kalangan masyarakat sipil. Berbusana adat Jawa lengkap, massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Jateng Peduli Antikorupsi menggelar ritual ruwatan di depan Gedung Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Kamis (30/7/2026).

Langkah simbolis ini dilakukan sebagai ikhtiar spiritual untuk menolak bala sekaligus mendorong penegakan hukum yang lebih bersih dan berintegritas di tanah air.

Prosesi Sakral Menuju Pintu Pengadilan

Aksi bermula saat peserta yang mengenakan busana adat berjalan kaki sembari membawa dupa dari gerbang luar menuju pintu masuk Gedung Tipikor Semarang. 

Setibanya di lokasi, rombongan langsung menyatukan barisan untuk menggelar doa bersama dan melangsungkan prosesi ruwatan.

BACA JUGA:Skandal OTT Bupati Pemalang: Oknum Pegawai KPK Jadi Tersangka

BACA JUGA:Bupati Pemalang Kena OTT KPK, Pemprov Tunjuk Penggantinya

Suasana khidmat menyelimuti pelataran gedung pengadilan saat harum asap dupa membubung ke udara. Ritual tradisional ini dimaknai sebagai simbol permohonan agar Jawa Tengah dan Indonesia terbebas dari ancaman praktik rasuah yang merugikan masyarakat luas.

Keprihatinan Pegiat Antikorupsi atas Maraknya OTT

Koordinator Aksi, Subandi, menegaskan bahwa gelombang penindakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jawa Tengah belakangan ini menjadi alarm keras bagi para aktivis. 

Maraknya temuan dugaan korupsi, baik di tingkat daerah maupun pusat, dinilai sudah sangat mengkhawatirkan.

"Penangkapan KPK di Jawa Tengah sangat memprihatinkan bagi kami para pegiat antikorupsi. Ditambah lagi di tingkat pusat muncul berbagai temuan yang menjadi perhatian publik," ujar Subandi di sela-sela aksi.

BACA JUGA:Usai Diperiksa KPK, Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Keluar Pakai Rompi Oranye

BACA JUGA:Tangkap Tangan KPK Bupati Pemalang, 7 Orang Diangkut ke Gedung Merah Putih di Jakarta

Ia menambahkan, ritual doa dan ruwatan dipilih sebagai sarana spiritual agar bangsa Indonesia dihindarkan dari berbagai malapetaka akibat dampak buruk korupsi.

Doa untuk Keselamatan dan Integritas Penegak Hukum

Selain sebagai simbol tolak bala, Subandi menjelaskan bahwa ruwatan ini juga ditujukan khusus untuk memberi dukungan moral kepada para aparat penegak hukum. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: