Bendung Cipero Tegal Jebol Lagi: 7.643 Hektare Sawah di Warureja & Suradadi Terancam Puso
JEBOL - Bendung Cipero di aliran Sungai Rambut, Desa Kedungjati, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal jebol dan berdampak ribuan hektare lahan pertanian di wilayah Pantura terancam gagal panen.-Yeri Noveli-
WARUREJA, radartegal.com – Sektor pertanian di wilayah Pantura Kabupaten Tegal kini berada dalam status siaga darurat. Bendung Cipero yang terletak di aliran Sungai Rambut, Desa Kedungjati, Kecamatan WARUREJA, dilaporkan jebol kembali setelah upaya perbaikan darurat gagal menahan debit air.
Kejadian ini mengancam keberlangsungan 7.643 hektare lahan pertanian yang tersebar di dua kecamatan lumbung pangan utama, yakni Warureja dan Suradadi.
Kronologi Jebolnya Bendung Cipero 2026
Kerusakan infrastruktur pengairan ini sejatinya telah dimulai sejak pertengahan Maret lalu. Menurut Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Daerah Irigasi (DI) Rambut Masroni, tekanan air yang ekstrem menjadi penyebab utama.
- 15 Maret 2026: Bendung pertama kali dilaporkan jebol.
- Awal April 2026: Pemerintah melakukan penanganan darurat dengan pembuatan sodetan di sisi selatan bendung.
- 11 April 2026: Sodetan baru tersebut ambrol akibat luapan debit Sungai Rambut setelah hujan deras mengguyur wilayah hulu.
BACA JUGA: Ironi HUT ke-120 Kota Pekalongan: 1750 KK di Pasirsari Terjebak Banjir Akibat Tanggul Jebol
BACA JUGA: Tanggul Sungai Gung Tegal Nyaris Jebol, 4 Desa Terancam Banjir
"Debit air saat hujan sangat besar, tidak mampu ditahan sodetan. Akhirnya jebol lagi. Petani sekarang panik karena musim hujan sudah hampir selesai," ungkap Masroni, Minggu 12 April 2026.
Dampak Nyata: Ancaman Gagal Panen dan Krisis Air Bersih
Kerusakan Bendung Cipero tidak hanya berdampak pada aspek teknis irigasi, namun juga memicu efek domino sosial-ekonomi bagi warga sekitar:
- Kegagalan Musim Tanam (MT): Petani di wilayah DI Rambut kini berpacu dengan waktu. Tanpa perbaikan permanen, Musim Tanam 1 (MT 1) dan Musim Tanam 2 (MT 2) diprediksi akan mengalami gagal panen massal (puso).
- Krisis Ketahanan Pangan: Sebagai salah satu penopang stok beras di Kabupaten Tegal, lumpuhnya irigasi ini dapat mengganggu stabilitas harga pangan daerah.
- Masalah Sanitasi Warga: Selain irigasi, aliran air dari bendung ini juga digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari (MCK).
BACA JUGA: Bibir Sungai Comal di Ampelgading Pemalang Jebol, 20 Hektare Sawah Warga Terdampak
BACA JUGA: Tanggul Darurat Jebol, Adisana Brebes Kebanjiran Lagi
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Maju Makmur Rokhidin, menegaskan bahwa perbaikan permanen dari pemerintah pusat maupun provinsi bersifat mendesak.
"Bukan cuma sawah, warga juga terancam krisis air bersih karena sebagian besar masih bergantung pada aliran sungai ini," jelasnya.
Harapan Petani: Perbaikan Permanen, Bukan Sekadar Sodetan
Para petani dan tokoh masyarakat setempat mendesak Kementerian PUPR serta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk segera melakukan langkah konkret. Kondisi ini dinilai sudah masuk kategori darurat infrastruktur.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

