Ketua DPRD Jateng Sumanto Dapat Gelar Satriyo Pelestari Budaya Ringgit Purwo Gegara Ini
GELAR - Ketua DPRD Jateng, Sumanto (tengah), mendapat gelar Satriyo Pelestari Budaya Ringgit Purwo dari Paguyuban Dalang Karanganyar.-istimewa-
KARANGANYAR, radartegal.com - Ketua DPRD Jateng Sumanto dapat gelar "Satriyo Pelestari Budaya Ringgit Purwo". Gelar kehormatan tersebut diberikan oleh Paguyuban Dalang KARANGANYAR.
Perkumpulan para dalang itu memberi gelar Satriyo Pelestari Budaya Ringgit Purwo, karena Ketua DPRD Jateng Sumanto konsisten nguri-uri budaya Jawa, khususnya wayang kulit.
Gelar untuk Ketua DPRD Jateng dari Para Dalang
Gelar tersebut diberikan langsung Ketua Paguyuban Dalang Karanganyar, Ki Sulardiyanto Pringgo Carito saat Pagelaran Wayang Kulit yang Sumanto gelar di kediamannya, di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, belum lama ini.
Ki Sulardiyanto mengatakan, penghargaan tersebut sebagai wujud apresiasi para dalang atas konsistensi Sumanto dalam menjaga kelestarian kesenian tradisional.
BACA JUGA:Ketua DPRD Jateng Sumanto Dorong Anggaran Beri Dampak ke Pengentasan Kemiskinan
BACA JUGA:Evaluasi Kinerja Pemprov: DPRD Jateng Bentuk Pansus LKPJ 2025
Menurutnya, mantan Ketua DPRD Kabupaten Karanganyar tersebut selama ini rutin menggelar pentas wayang kulit setiap 35 hari sekali (selapan).
“Beliau ini bukan sekadar pejabat yang menonton, tapi sosok Satriyo yang mengayomi. Pak Manto ini konsisten mengadakan pagelaran wayang kulit setiap selapan. Ini menjadi bukti nyata bahwa beliau memegang teguh jatidiri bangsa,” ujar Ki Sulardiyanto.
Pagelaran wayang kulit tersebut mengambil lakon Sadewa Kridha Brata dengan Dalang Ki Aang Wiyatmoko dan Ki Isna Indra Prasetyo. Lakon tersebut menggambarkan keteguhan hati, pengorbanan, dan kesucian batin. Tokoh utamanya adalah Sadewa, putra bungsu dari Pandawa.
Cerita berpusat pada ujian spiritual yang harus dijalani Sadewa melalui sebuah laku tapa brata demi menyelamatkan dunia dari kekuatan jahat.
BACA JUGA:Stok BBM dan Elpiji di Jateng Aman, Pemprov Imbau Masyarakat Tidak Panik
BACA JUGA:Ahmad Luthfi Tekankan ASN Jateng Jadi Problem Solver: Layanan Publik Harus Responsif & Bebas Titipan
Kisahnya berawal saat Dewi Durga yang merupakan manifestasi dari Batari Durga mengalami kutukan akibat kesalahan di kahyangan. Ia berubah menjadi sosok menyeramkan yang bersemayam di hutan angker dan menuntut korban manusia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

