KH Nuridin Terima Anugerah Pikukuh Silsilah dan Kekancingan dari Kraton Surakarta Hadiningrat

KH Nuridin Terima Anugerah Pikukuh Silsilah dan Kekancingan dari Kraton Surakarta Hadiningrat

Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat secara resmi menganugerahkan Pikukuh dan Kekancingan kepada KH. Nuridin Syamsudin, Pengasuh sekaligus Pendiri Pondok Pesantren Putra Putri Al Hasaniyah Kedawon, Larangan.(istimewa)--

BREBES, radartegal.com- Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat secara resmi menganugerahkan Pikukuh dan Kekancingan kepada KH. Nuridin Syamsudin, Pengasuh sekaligus Pendiri Pondok Pesantren Putra Putri Al Hasaniyah Kedawon, Larangan. Selain menjadi pendiri Ponpes Al Hasaniyah, KH Nuridin juga merupakan anggota DPRD Kabupaten BREBES.

Prosesi pengukuhan sendiri dilakukan secara khidmat, sakral, dan penuh kebesaran tradisi Jawa-Islam. Tidak hanya itu, proses pengukuhan juga dihadiri oleh para ulama, habaib, tokoh masyarakat, serta undangan dari berbagai penjuru daerah. 

Peristiwa ini tidak sekadar seremoni adat, melainkan peneguhan amanah sejarah yang menghubungkan warisan leluhur dengan tanggung jawab generasi masa kini.

Pikukuh yang dianugerahkan menjadi simbol pengukuhan kehormatan sekaligus kepercayaan Kraton terhadap peran KH. Nuridin Syamsudin dalam menjaga nilai-nilai luhur tradisi, spiritualitas, dan kearifan Nusantara.

BACA JUGA: 4 Destinasi Wisata Edukatif Hits di Surakarta dan Sekitarnya

BACA JUGA: Kaya Sejarah, Ini 4 Museum Populer di Surakarta Buat Tambah Wawasanmu

Sementara Kekancingan merupakan penetapan resmi yang mengikat secara administratif-adat, sebagai pengakuan atas kedudukan historis serta kontribusi nyata dalam bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan.

Kraton Surakarta memandang KH. Nuridin Syamsudin sebagai figur ulama dan pendidik yang istiqamah mengabdikan diri bagi umat melalui pendidikan pesantren, pembinaan akhlak, serta pelestarian tradisi keilmuan Islam yang berpadu harmonis dengan budaya Nusantara.

Sebagai pendiri Pondok Pesantren Al Hasaniyah, KH Nuridin Syamsudin dinilai telah melahirkan generasi yang tidak hanya berilmu dan berakhlak, tetapi juga memiliki komitmen kebangsaan serta kepedulian sosial yang kuat.

Penyerahan Pikukuh dan Kekancingan ini menegaskan kembali kesinambungan relasi historis antara institusi keraton dan ulama — dua pilar utama yang sejak berabad-abad lalu membentuk wajah peradaban Jawa dan Nusantara.

BACA JUGA: 3 Destinasi Wisata Seni Unik di Surakarta yang Tak Ada Duanya

BACA JUGA: Lokasinya Strategis, Ini Rekomendasi Tempat Wisata Surakarta Favorit

Lebih dari sekadar penghargaan, momentum ini menjadi penegasan bahwa tradisi bukanlah peninggalan masa lalu semata, melainkan fondasi moral dan spiritual yang terus hidup dan relevan dalam menjaga jati diri bangsa.

Pikukuh ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk merawat warisan leluhur, memperkuat identitas kebangsaan, serta meneguhkan peran ulama sebagai penuntun moral, penjaga tradisi, dan perekat persatuan di tengah arus perubahan zaman.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait